RINGKASAN MATERI UP PPG DALJAB
RINGKASAN
MATERI UP PPG DALJAB
Bismillahirrohmanirrohim
Kepribadian
1. Indikator
1-8 sikap cinta tanah air meliputi : sikap nasionalisme, sikap patriotism,
sikap menghargai perbedaan, sikap mengutamakan kepentingan bersama, sikap mempertahankan
kekayaan alam Indonesia, mengapresiasi kekayaan budaya bangsa lain sehingga
memperkuat jati diri bangsa Indonesia.
2. Indikator
9-15 sikap berwibawa, tegas, disiplin, penuh panggilan jiwa, dan samapata.
3. Indikator
16-20 sikap kesepenuhhatian dan kemurahhatian.
Pedagogik
Indikator
21.
Disajikan narasi tentang
teori perkembangan peserta didik yang diterapkan dalam PBM, peserta dapat
menentukan teori perkembangan apa yang sesuai.
22.
Disajikan narasi tentang
teori perkembangan peserta didik yang diterapkan dalam PBM, peserta dapat
menganalisis teori perkembangan apa yang sesuai.
Materi
Teori Perkembangan Peserta Didik
Sub Materi
Teori Psikoanalitis, Teori Kognitif, Teori Perilaku
dan Belajar Sosial, Teori Etologis, dan Teori Ekologis.
1.
Teori Psikoanalitis
Teori ini menjelaskan
mengenai hakikat serta perkembangan kepribadian seseorang. Unsur-unsur penting
yang dijelaskan dalam teori ini adalah emosi, motivasi, serta faktor-faktor
lainnya. Di dalam teori ini juga dijelaskan jika perkembangan kepribadian akan
disebabkan oleh konflik-konflik yang umumnya terjadi pada masa kanak-kanak.
Para pencetus teori ini juga percaya jika perkembangan merupakan proses yang
dinamis dan aktif yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor individual yang
ada sejak lahir serta pengalaman emosional dan sosial. Teori psikoanalitis yang
cukup terkenal yaitu dicetuskan oleh Sigmund Freud dan Erik
Erikson.
Dalam menguraikan
teorinya, Freud mengembangkan satu penjelasan tentang struktur dasar dari
kepribadian. Teorinya menyatakan bahwa kepribadian tersusun dari tiga
komponen: id, ego dan superego. Id ada sejak lahir dan terdiri
dari instink dan dorongan mendasar yang mencari kepuasan langsung, tanpa
menghiraukan konsekuensinya. Jika tidak dikendalikan, id akan
menempatkan individu dalam konflik mendalam dengan orang lain dan masyarakat.
Unsur kedua dari struktur kepribadian adalah ego, yang mulai berkembang selama
tahun pertama kehidupan. Ego terdiri dari proses mental, daya penalaran dan
pikiran sehat, yang berusaha membantu id menemukan ekspresi tanpa
mengalami masalah. Ego bekerja menurut prinsip realitas. Unsur ketiga dari
struktur kepribadian adalah superego, yang berkembang dari puncak
kedewasaan, identifikasi dan model orang tua, serta dari masyarakat. Superego
mewakili nilai-nilai sosial yang tergabung dalam struktur kepribadian dari
individu. Ini menjadi kata hati yang berusaha mempengaruhi perilaku untuk
menyesuaikan diri dengan harapan-harapan
sosial. Id dan superego sering bertentangan, menyebabkan
kesalahan, kegelisahan, dan gangguan.
Sedangkan teori psikososial
yang dikembangkan oleh Erikson, beliau lebih teliti dalam menguraikan serta
memperluas dari struktur psikoaanalisis yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh
Freud dan merumuskannya kembali yang di sesuaikan dengan dunia modern. Menurut
Erikson, kepribadian seseorang terbentuk melalui seluruh tahapan psikososial
yang dialaminya sepanjang hidupnya. Masing-masing tahap tentunya terdapat
perkembangan yang khas dan mengharuskan seseorang tersebut untuk menghadapinya.
Delapan
tahap perkembangan psikososial:
1)
Trust vs Mistrust ( Percaya
& Tidak Percaya, 0-18 bulan)
Karena ketergantungannya, hal pertama yang akan dipelajari seorang anak
atau bayi dari lingkungannya adalah rasa percaya pada orang di sekitarnya,
terutama pada ibu atau pengasuhnya yang selalu bersama setiap hari. Jika
kebutuhan anak cukup dipenuhi oleh sang ibu atau pengasuh seperti makanan dan
kasih sayang maka anak akan merasakan keamanan dan kepercayaan.
2)
Otonomi vs Malu dan Ragu –
ragu (Autonomy vs Shame and Doubt, 18 bulan – 3 tahun)
Kemampuan anak untuk melakukan beberapa hal pada tahap ini sudah mulai
berkembang, seperti makan sendiri, berjalan, dan berbicara. Kepercayaan yang
diberikan orang tua untuk memberikannya kesempatan bereksplorasi
sendiri dengan dibawah bimbingan akan dapat membentuk anak menjadi
pribadi yang mandiri serta percaya diri.
3)
Initiative vs Guilt
(Inisiatif vs Rasa Bersalah, 3 – 6 tahun)
Anak usia prasekolah sudah mulai mematangkan beberapa kemampuannya yang
lain seperti motorik dan kemampuan berbahasa, mampu mengeksplorasi
lingkungannya secara fisik maupun sosial dan mengembangkan inisiatif untuk
mulai bertindak.
Apabila orang tua selalu memberikan hukuman untuk dorongan inisiatif
anak, akibatnya anak dapat selalu merasa bersalah tentang dorongan
alaminya untuk mengambil tindakan.
4)
Industry vs Inferiority (
Tekun vs Rasa Rendah Diri, 6-12 tahun)
Anak yang sudah terlibat aktif dalam interaksi sosial akan mulai
mengembangkan suatu perasaan bangga terhadap identitasnya. Kemampuan akademik
anak yang sudah memasuki usia sekolah akan mulai berkembang dan juga kemampuan
sosialnya untuk berinteraksi di luar keluarga.
Dukungan dari orang tua dan gurunya akan membangun perasaan kompeten
serta percaya diri, dan pencapaian sebelumnya akan memotivasi anak untuk
mencapai pengalaman baru. Sebaliknya kegagalan untuk memperoleh prestasi
penting dan kurangnya dukungan dari guru dan orang tua dapat membuat anak
menjadi rendah diri, merasa tidak kompeten dan tidak produktif.
5)
Identity vs
Role Confusion ( Identitas vs Kebingungan Peran, 12-18 tahun)
Pada tahap ini seorang anak remaja akan mencoba banyak hal untuk
mengetahui jati diri mereka sebenarnya, dan biasanya anak akan mencari teman
yang memiliki kesamaan dengan dirinya untuk melewati hal tersebut. Jika anak
dapat menjalani berbagai peran baru dengan positif dan dukungan orang tua, maka
identitas yang positif juga akan tercapai.
6)
Intimacy vs Isolation (
Keintiman vs Isolasi, 18-35 tahun)
Tahap pertama dalam perkembangan kedewasaan ini biasanya terjadi pada
masa dewasa muda, yaitu merupakan tahap ketika seseorang merasa siap membangun
hubungan yang dekat dan intim dengan orang lain. Jika sukses membangun hubungan
yang erat, seseorang akan mampu merasakan cinta serta kasih sayang.
Pribadi yang memiliki identitas personal kuat sangat penting untuk dapat
menembangkan hubungan yang sehat. Sementara kegagalan menjalin hubungan bisa
membuat seseorang merasakan jarak dan terasing dari orang lain.
7)
Generativity vs Stagnation ( Bangkit vs Stagnan, 35-64 tahun)
Ini
adalah tahap kedua perkembangan kedewasaan. Normalnya seseorang sudah
mapan dalam kehidupannya. Kemajuan karir atau rumah tangga yang telah dicapai
memberikan seseorang perasaan untuk memiliki suatu tujuan. Namun jika seseorang
merasa tidak nyaman dengan alur kehidupannya, maka biasanya akan muncul
penyesalan akan apa yang telah dilakukan di masa lalu dan merasa hidupnya
mengalami stagnasi.
8)
Integrity vs Despair (Integritas vs Keputusasaan, 65 tahun keatas)
Pada fase ini seseorang
akan mengalami penglihatan kembali atau flash back tentang alur kehidupannya
yang telah dijalani. Juga berusaha untuk mengatasi berbagai permasalahan yang
sebelumnya tidak terselesaikan. Jika berhasil melewati tahap ini, maka seseorang
akan mendapatkan kebijaksanaan, namun jika gagal mereka bisa menjadi putus asa.
2.
Teori Kognitif
Ada sebuah teori
perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh seorang psikolog Swiss, Jean
Piaget, yang dikenal dengan nama Teori Piaget. Pertama kali diterbitkan pada
1952, Piaget berpendapat bahwa kemampuan kognitif adalah sebuah proses genetik
yang didasarkan pada mekanisme biologis perkembangan sistem saraf. Semakin usia
bertambah, maka susunan sel sarafnya semakin kompleks sehingga kemampuannya pun
turut meningkat.
Saat seseorang tumbuh, ia
akan beradaptasi secara biologis terhadap lingkungannya. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya beberapa perubahan kualitatif di dalam struktur
kognitifnya. Piaget menyimpulkan bahwa kemampuan berpikir dan kekuatan mental
anak yang usianya berbeda, maka kualitatifnya pun akan berbeda.
Piaget mengajarkan bahwa
perkembangan kognitif adalah hasil gabungan dari kedewasaan otak dan sistem
saraf dan adaptasi pada lingkungan kita.
Adaptasi adalah proses dengan mana anak-anak menyesuaikan pemikirannya untuk
memasukkan informasi baru yang selanjutnya mereka mengerti. Piaget (dalam Rice,
2002) mengatakan bahwa anak-anak menyesuaikan diri dengan dua cara, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi berarti memperoleh
informasi baru dan memasukkannya ke dalam skema sekarang dalam respon terhadap
stimulus lingkungan yang baru. Akomodasi meliputi penyesuaian
pada informasi baru dengan menciptakan skema yang baru ketika skema lama tidak
berhasil. Anak-anak mungkin melihat anjing untuk pertama kalinya (asimilasi),
tapi kemudian belajar bahwa beberapa anjing aman untuk dipiara dan anjing
lainnya tidak (akomodasi). Ketika anak-anak memperoleh semakin banyak
informasi, mereka menyusun pemahamannya tentang dunia secara berbeda.
Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan
kognitif anak menjadi empat, yaitu:
1)
Tahap Sensorimotor (0 - 24 Bulan)
Pertama ada tahap
sensorimotor yang dialami oleh bayi baru lahir (0 bulan) hingga usia 24 bulan
atau 2 tahun. Di tahap awal kehidupan, si Kecil masih sangat terbatas dari segi
kemampuan. Namun, setiap anak terlahir dengan bawaan berupa refleks dan
rangsangan untuk mencari tahu dunianya.
Perkembangannya berdasarkan pada tindakan yang
dilakukan secara bertahap. Ia juga belum mampu mempertimbangkan apa saja
keinginan, kepentingan, dan kebutuhan orang lain yang membuatnya dianggap
egosentris. Beberapa kemampuan yang dimiliki oleh si Kecil di tahap usia ini
antara lain:
o Suka memperhatikan sesuatu
dengan waktu lama.
o Memperhatikan suatu objek
sebagai hal yang tetap dan ingin merubah letaknya.
o Melihat dirinya sendiri
sebagai makhluk yang berbeda dari objek di sekelilingnya.
o Mencari rangsangan melalui
suara dan sinar lampu.
o Mengartikan sesuatu dengan
cara memanipulasinya.
2)
Tahap Pra-Operasional (2 - 7 Tahun)
Ciri utama perkembangan kemampuan
kognitif si Kecil di tahap ini adalah mulai berkembangnya
konsep intuitif dan penggunaan simbol. Tahap pra-operasional ini terbagi
menjadi dua, yaitu:
o Pre-operasional (2 - 4
tahun):
si Kecil sudah mampu mengembangkan konsepnya menggunakan bahasa sederhana yang
sering mengalami kesalahan dalam memahami suatu objek. Ciri-cirinya antara
lain:
1.
Mampu mengelompokkan objek secara tunggal dan mencolok.
2.
Mampu mengumpulkan benda-benda berdasarkan kriteria.
3.
Mampu menyusun beberapa benda secara berderet.
4.
Self counter yang sangat menonjol.
o Intuitif (4 - 7 tahun): pengetahuan yang
diperoleh si Kecil didasarkan pada kesan yang agak abstrak. Ia dapat
menyimpulkan, tapi belum mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Untuk itu si
Kecil di kategori usia ini sudah mampu mengutarakan isi hatinya, khususnya bagi
anak yang mempunyai banyak pengalaman. Ciri-ciri si Kecil di tahap ini antara
lain:
1.
Sudah mulai mengenali hubungan secara logis atas hal-hal yang lebih
rumit.
2.
Meski kurang menyadari, tapi si Kecil sudah dapat mengkategorikan objek.
3.
Dapat mewujudkan ide yang ada di pikirannya.
3)
Tahap Operasional Konkret (7-11 Tahun)
Tahap ketiga perkembangan
kemampuan kognitif anak adalah operasional konkret yang dimiliki oleh anak di
kategori usia 7-11 tahun. Berikut adalah ciri-ciri perkembangan di tahapan ini:
o Sudah mampu mengelompokkan
objek atau situasi tertentu dan mengurutkan sesuatu.
o Kemampuannya dalam
mengingat dan berpikir logis juga semakin meningkat.
o Memahami konsep
sebab-akibat secara rasional dan sistematis.
o Mulai dapat belajar membaca
dan matematika.
o Sikap egosentrisnya semakin
berkurang secara perlahan.
4)
Tahap Operasional Formal (Mulai 11 Tahun)
Memasuki usia pra-remaja,
anak pada tahapan operasional formal memiliki beberapa ciri sebagai berikut:
o Sudah menguasai penalaran
dan berpikir secara abstrak.
o Mampu menarik kesimpulan
dari informasi yang ia dapat.
o Memahami konsep yang
bersifat abstrak, seperti nilai dan cinta.
o Sudah dapat melihat
realitas yang terkadang bisa abu-abu, tidak melulu hitam dan putih. Kemampuan
ini sangat penting karena akan membantu ia melewati masa peralihan dari fase
remaja menuju fase dewasa.
3. Teori Prilaku (behavior) dan
Belajar Sosial
a.
Behaviorisme
Belajar adalah perubahan tingkah laku.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia mampu menunjukkan perubahan
tingkah laku. Misalnya: seorang siswa belum dapat membaca. Maka, betapapun ia
keras belajar, betapapun gurunya beusaha sebaik mengajar, atau bahkan ia sudah
hafal huruf A sampai Z di luar kepala, namun bila ia gagal mendemonstrasikan
kemampuanya dalam membaca, maka siswa itu belum di anggap belajar. Ia di anggap
telah belajar jika ia telah menunjukkan suatu perubahan dalam tingkah laku
(dari tidak bisa membaca menjadi bisa membaca).
Menurut teori ini, yang terpenting adalah
masukan/input yang berupa stimulus dan keluaran/output yang berupa respons.
Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons itu dianggap tak
penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang dapat diamati hanyalah
stimulus dan respons. Menurut teori Behaviorisme, apa saja yang diberikan guru
(stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus bisa
diamati, diukur, dan tidak oleh hanya tersirat (implicit).
Faktor lain yang juga penting adalah
factor penguatan (reinforcement). Penguatan hal yang memperkuat respon. Apabila
responya positif maka respon akan semakin kluat, apabila responya negative maka
dikurangi supaya tetap menguatkan respon. Pelopor teori Behaviorisme ini adalah
Pavlov, Watson, Skinner, Hull, dan Gutrie.
b.
Teori Belajar Sosial
Tokoh dari
teori ini adalah Albert Bandura. Teori ini menekankan perilaku, lingkungan, dan
faktor kognisi sebagai faktor kunci dalam perkembangan individu. Secara umum,
teori ini mengatakan bahwa manusia bukanlah seperti robot yang tidak mempunyai
pikiran dan menurut saja sesuai dengan kehendak pembuatnya. Namun, manusia
mempunyai otak yang dapat berpikir, menalar, menilai, ataupun membandingkan
sesuatu sehingga dapat memilih arah bagi dirinya. Lebih lanjut Bandura
memperjelas teorinya lebih mendalam dengan menamakan teori belajar sosial
kognitif. Bandura sangat yakin bahwa perilaku seseorang itu merupakan hasil
dari mengamati perilaku orang lain, dengan kata lain secara kognitif, perilaku
individu itu mengadopsi dari perilaku orang lain. Proses ini disebut proses
modeling atau imitasi.
c.
Peran terhadap Perkembangan
Behaviorisme menekankan peran dari pengaruh
lingkungan dalam memberikan contoh perilaku. Perilaku menjadi jumlah total dari
respon yang dipelajari atau yang terkondisi pada stimulus, suatu pandangan yang
agak mekanistik. Menurut behavioris, pembelajaran terjadi melalui
pengkondisian. Pertama, pembelajaran melalui asosiasi (klasik), dan
pembelajaran dari konsekuensi perilaku (operan). Adanya penekanan yang menjadi
perhatian orangtua dan pendidik bahwa anak-anak belajar dengan mengamati
perilaku orang lain dan dengan meniru perilaku mereka.
4. Teori Etologis
Konrad Lorenz (1903-1989) menekankan
sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait dengan evolusi, dan ditandai oleh
periode yang penting atau peka. Melalui penelitian yg sebagian besar dilakukan
dengan angsa abu-abu, Lorenz (1965) mempelajari suatu pola perilaku yang
dianggap diprogramkan di dalam gen burung. Seekor anak angsa yang baru
ditetaskan tampaknya dilahirkan dengan naluri mengikuti induknya. Menurut
Lorenz konsep etologis untuk belajar dengan cepat dan alamiah dalam suatu
periode waktu yang kritis yang melibatkan kedekatan dengan obyek yang dilihat
bergerak pertama kali.
Ethology menekankan bahwa perilaku adalah
produk dari evolusi dan ditentukan secara biologis. Tiap spesies mempelajari
adaptasi apa yang penting untuk bertahan hidup, dan melalui proses seleksi
alam, yang paling baiklah yang mampu hidup untuk mewariskan sifat-sifatnya
kepada keturunannya. Teori ini menekankan bahwa perilaku individu adalah produk
dari evolusi dan ditentukan secara biologis. Teori ini juga tetap menghargai
adanya peran lingkungan dalam memenuhi berbagai kebutuhan individu, sehingga
pengalaman individu pada awal kehidupan dapat memberikan sumbangan yang berarti
bagi kehidupan individu tersebut di masa selanjutnya.
5.
Teori Ekologi
Urie
Bronfenbrenner (dalam Santrock, 1995) merupakan ahli yang mengemukakan teori
sistem mengenai ekologi yang menjelaskan perkembangan individu dalam
interaksinya dengan lingkungan di luar dirinya yang terus menerus mempengaruhi
segala aspek perkembangannya. Teori ekologi ini ialah pandangan sosiokultural
Bronfenbrenner tentang perkembangan yang terdiri dari lima sistem lingkungan,
mulai dari pengaruh interaksi langsung pada individu hingga pengaruh kebudayaan
yang berbasis luas. Kelima sistem ekologi tersebut adalah mikrosistem,
mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem (Santrock, 1995) Dari
perspektif teori ekologi, individu berkembang dalam jaringan yang kompleks dari
sistem yang saling berhubungan Oleh karena itu banyak sumber berperan dalam
perkembangan tingkah laku. Selain faktor individual, faktor lingkungan seperti
aktivitas pengasuhan dianggap sebagai salah satu determinan dari permasalahan
tingkah laku bermasalah. Teori ini menekankan bahwa manusia tidak berkembang
dalam isolasi, namun merupakan rangkaian interaksi di dalam keluarga, sekolah,
masyarakat atau komunitasnya. Setiap lapisan lingkungan selalu bersifat dinamis
mempengaruhi mempengaruhi perkembangan individu.
Indikator
23.
Disajikan narasi PBM
dengan kegiatan pembelajaran yang terkait dengan teori belajar, peserta dapat
menganalisis teori belajar apa yang sesuai.
Materi
Teori belajar dan aplikasinya dalam pembelajaran di SD
Sub Materi
Teori belajar Behavioristik Konstruktivistik, Sosial
dan Teori Belajar Kognitif
1.
Teori Belajar
Behavioristik
Teori belajar
behavioristik menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang
dianggap belajar jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.
Pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output
yang berupa respons. Stimulus adalah sesuatu apa saja yang diberikan oleh guru
kepada peserta didik, dan respon berupa rekasi atau tanggapan yang dihasilkan
oleh peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Penguatan
(reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja
yang dapar memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan
dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat.
Aplikasi teori ini dalam
pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktifitas “mimetic”
yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke
keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi
menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa peserta didik
telah menyelesaikan tugas belajarnya.
2.
Teori Belajar
Kontrutivistik
Pandangan
konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian
makna oleh peserta didik kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi
yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada
tujuan tersebut. Oleh karena itu pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan
kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri peserta
didik. Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengembangkan ide-idenya secara
luas.
Sementara peranan guru
dalam belajar konstruktivistik adalah membantu agar proses pengkonstruksian
pengetahuan oleh peserta didik berjalan lancar. Guru tidak mentransfer
pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu peserta didik untuk
membentuk pengetahuannya sendiri dan dituntut untuk lebih memahami jalan
pikiran atau cara pandang peserta didik dalam belajar.
3.
Teori Belajar Kognitif
Pengertian belajar
menurut teori belajar kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang
tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi
teori ini adalah bahwa setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah
tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan
berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi
dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Menurut teori kognitif,
ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang
berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak terpatah-pata,
terpisah-pisah, tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, dan
menyeluruh.
Selama kegiatan
pembelajaran berlangsung, keterlibatan peserta didik secara aktif amat
dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu
mengkaitkan pengetahuan baru dengan setruktur kognitif yang telah dimiliki
peserta didik. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika
tertentu, dari sederhana ke kompleks. Perbedaan individual pada diri peserta
didik perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan
belajar peserta didik.
Indikator
24.
Disajikan narasi tentang
kompetensi dasar Penilaian dan analisis hasil belajar, peserta dapat menentukan
alat penilaian serta analisis hasil belajar untuk membantu peserta didik
menguasai kompetensi tersebut.
Materi
Penilaian
dan analisis hasil belajar dengan menerapkan penilaian otentik
Sub Materi
Penilaian
Otentik, Penilaian Sikap, Penilaian Pengetahuan dan Penilaian Keterampilan
1. Pengertian Penilaian Autentik
Penilaian Autentik adalah pengukuran atas proses dan hasil belajar peserta didik
untuk ranah sikap (afektif), keterampilan (psikomotor), dan Pengetahuan
(kognitif).
Penilaian
autentik adalah istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai
metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan
kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah.
Sekaligus, mengekspresikan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara
mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar
lingkungan sekolah. Ketika menerapkan penilaian Autentik untuk mengetahui hasil
dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan
dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai
prestasi luar sekolah.
2. Penilaian Sikap
Pendidik
melakukan penilaian sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman
sejawat (peer evaluation) oleh peserta didik.
a.
Observasi
Merupakan
teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan
indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengn menggunakan pedoman
observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
b.
Penilaian diri
Merupakan
teknik menilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan
dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang
digunakan berupa lembar penilaian diri.
c.
Penilaian antar peserta didik atau teman
Merupakan
teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait
dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian
antar peserta didik.
d.
Jurnal atau catatan guru
Merupakan
catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil
pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan
sikap dan perilaku.
3. Penilaian Pengetahuan
a.
Instrumen tes tertulis
Berupa
soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan
uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
b.
Instrumen tes lisan
Berupa
daftar pertanyaan yang diberikan oleh guru secara ucap atau lisan, sehungga
peserta didik merespon pertanyaan tersebut, sehingga menimbulkan keberanian
dari siswa. Jawaban dapat berupa kata, frase, kalimat atau paragraf yang di
ucapkan.
c.
Instrumen penugasan
Berupa
pekerjaan rumah atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok
sesuai dengan karakteristik tugas.
4. Penilaian Keterampilan
Pendidik
menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang
menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan
menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian porto polio. Instrumen yang
digunakan merupakan daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang
dilengkapi rubrik.
a.
Tes praktik atau kinerja atau performance
Yaitu
penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktifitas
atau perilaku sesuatu tuntutan kompetensi.
b.
Penilaian projek
Yaitu
tugas-tugas belajar (learning task) yang meliputi kegiatan perancangan,
pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
c.
Penilaian porto polio
Yaitu
penilaian yang dilakukan dengan cara penilai kumpulan seluruh karya peserta
didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif integratif untuk mengetahui
minat, perkembangan, prestasi, dan kreatifitas peserta didik dalam kurun waktu
tertentu. karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan
kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.
5. Karakteristik Penilaian
Autentik
Suatu
penilaian dikatakan autentik apabila sangat mendekati hasil pendidikan sains
yang diinginkan, melibatkan siswa pada tugas-tugas yang bermanfaat, penting dan
bermakna, mampu menantang siswa menerapkan informasi atau ketrampilan akademik
baru pada situasi reel untuk maksud yang jelas, serta mampu mengukur perbuatan
atau menampilkan yang sebenarnya pada suatu mata pelajaran, pengukuran
penguasaan siswa terhadap suatu mata pelajaran dengan cara yang dibanding
regulasi sederhana dari pengetahuan. Karakteristik penilaian nyata (authentic
assessment) sebagai berikut:
a. Dilaksanakan selama dan
sesudah proses pembelajaran berlangsung
b. Bisa digunakan untuk
formatif atau sumatif
c. Yang diukur ketrampilan dan
performance bukan mengingat fakta
d. Berkesinambungan
e. Terintegrasi, dan dapat
digunakan sebagai feedback.
Indikator
25.
Disajikan narasi tentang
kompetensi Pedagogik profesi guru, peserta dapat menganalisis teori belajar
serta prinsip pembelajaran yang mendidik untuk membantu menguasai kompetensi
tersebut
Materi
Kompetensi Pedagogik profesi guru dan aplikasinya
dalam pembelajaran di SD
Sub Materi
Penguasaan Karakteristik Peserta didik, Penguasaan
teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik
1. Penguasaan
Karakteristik Peserta didik
Peserta didik dalam suatu
kelas atau sekolah memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Perbedaan-perbedaan yang ada perlu dikelola secara baik. Namun jika perbedaan
tersebut tidak dikelola secara baik, maka akan menimbulkan
permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran. Karakteristik peserta didik
banyak ragam yaitu: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan
kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi,
perkembangan sosial dan perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan
motorik.
2. Penguasaan
teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik
Guru mampu menetapkan berbagai pendekatan,
strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif sesuai
dengan standar kompetensi guru. Guru mampu menyesuaikan metode pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan memotivasi mereka untuk
belajar.
Untuk mewujudkan semuanya, terdapat
beberapa hal yang harus menjadi perhatian guru:
a.
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai materi
pembelajaran sesuai usia dan kemampuan belajarnya melalui pengaturan proses
pembelajaran dan aktivitas yang bervariasi,
b.
Guru selalu memastikan tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi
pembelajaran tertentu dan menyesuaikan aktivitas pembelajaran berikutnya
berdasarkan tingkat pemahaman tersebut,
c.
Guru dapat menjelaskan alasan pelaksanaan kegiatan/aktivitas yang
dilakukannya, baik yang sesuai maupun yang berbeda dengan rencana, terkait
keberhasilan pembelajaran,
d.
Guru menggunakan berbagai teknik untuk memotiviasi kemauan belajar
peserta didik,
e.
Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang saling terkait satu sama
lain, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran maupun proses belajar peserta
didik,
f.
Guru memperhatikan respon peserta didik yang belum/kurang memahami
materi pembelajaran yang diajarkan dan menggunakannya untuk memperbaiki
rancangan pembelajaran berikutnya.
Beberapa prinsip pembelajaran yang harus dikuasai antara lain.
a. Prinsip perhatian dan
motivasi e.
Prinsip pengulangan
b. Prinsip transper dan
retensi f.
Prinsip tantangan
c. Prinsip keaktifan g.
Prinsip balikan dan penguatan
d. Prinsip keterlibatan
langsung h.
Prinsip perbedaan individual
Indikator
26.
Disajikan narasi tentang
Karakteristik pembelajaran abad 21, peserta dapat menganalisis karakteristik
guru dan siswa abad 21 untuk membantu menguasai kompetensi tersebut
Materi
Karakteristik Pembelajaran Abad 21
Sub Materi
Karakteristik guru dan siswa abad 21/Peran teknologi
dan media dalam pembelajaran abad 21
Karakteristik Pembelajaran Abad 21
Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi membawa banyak konsekwensi bagi dunia pendidikan, salah satunya
perubahan paradigma guru. Perubahan karakteristik peserta didik, format materi
pembelajaran, pola interaksi pembelajaran, dan orientasi baru abad 21
memerlukan ruang-ruang kelas lebih interaktif. Kelas-kelas akan semakin banyak
yang terkoneksi jaringan internet berkecepatan tinggi yang mudah mengakses “big
data”. Berkembangnya massive open online course (MOOC) memungkinkan orang
belajar tanpa batas dan dapat diakses melalui perangkat pribadi seperti
handphone, tablet, laptop, PDA, maupun perangkat bergerak lainnya. Tanda-tanda
era disrupsi sudah nyata yang dicirikan; (1) belajar tidak lagi terbatas pada
paket-paket pengetahuan, (2) pola belajar lebih informal, (3) orientasi belajar
mandiri (self motivated learning) dan (4) banyak cara untuk belajar dengan
banyak sumber. SDM dengan daya inovasi, daya belajar dan kreatifitas tinggi
menjadi incaran banyak organisasi. Jenis keterampilan yang dibutuhkan adalah
terwadahi dalam 4C (Creativity, Collaboration, Critical Thingking, dan
Communication).
Pada sisi peserta didik terjadi
pergeseran karakteristik. Generasi z menghendaki kebebasan belajar, menyukai
hal baru yang praktis, selalu terkoneksi internet, lebih menyukai visual
daripada verbal, rentang perhatian pendek, suka berinteraksi dengan banyak
media, suka berkolaborasi dan berbagi namun tetap terjaga privasinya. Guru
harus merubah paradigma yang tidak hanya berfokus kepada konten namun berfokus
pula pada pengembangan kreatifitas dan keterampilan belajar mandiri. Peran guru
lebih sebagai mentor, fasilitator, kolaborator sumber daya dan mitra belajar.
Guru harus menjemput penerapan model-model pembelajaran yang sesuai seperti
belajar penemuan (discovery learning), pembelajaran berbasis proyek,
pembelajaran berbasis masalah dan penyelidikan, belajar berdasarkan pengalaman
sendiri, pembelajaran kontekstual, bermain peran dan simulasi, pembelajaran
kooperatif, pembelajaran kolaboratif, maupun diskusi kelompok kecil. Peserta
didik harus dikembalikan haknya sebagai subyek pembelajaran yang aktif. Guru
harus mau memulai untuk dapat mengintegrasikan teknologi dengan kerangka
integrasi yang melibatkan pengetahuan pedagogi), penguasaan materi, dan
teknologi yang dikenal dengan TPACK. Penerapan praktis TPACK mencakup 8 domain
yaitu; (1) menilai peserta didik, (2) memahamkan materi, (3) memahami peserta
didik, (4) merancang kurikulum, (5) merepresentasikan data, (6) mengelola
pembelajaran, (7) mendukung strategi pembelajaran, (8) pengelolaan pembelajaran
dan integrasi dalam konteks mengajar secara lebih luas.
Indikator
27.
Disajikan narasi tentang
kasus tentang pembelajaran di kelas, peserta dapat mengidentifikasi nilai
karakter yang tersirat dalam kegiatan pembelajaran
Materi
Penguatan Pendidikan karakter
Sub Materi
Nilai Utama (Religiositas,
Nasionalisme,Kemandirian,Gotong Royong, dan Integritas)
Penguatan Pendidikan karakter
PPK yang berarti Penguatan Pendidikan Karakter adalah
aktivitas pendidikan di sekolah yang bertujuan untuk membina karakter siswa
dengan cara penyelarasan pada segi kinestetik (gerakan), estetis (hati), etik
(adab) dan literasi (pola pikir). Aktivitas PPK ini juga menuntut keikutsertaan
dan kerjasama pada keluarga, sekolah dan masyarakat.
Nilai Utama (Religiositas,
Nasionalisme,Kemandirian,Gotong Royong, dan Integritas)
a. Religius mewujudkan diri perilaku
dan perkataan dalam mempercayai keyakinan kepada Tuhan YME.
b. Nasionalis bisa lebih memprioritaskan
kepentingan bangsa daripada kepentingan lain.
c. Gotong Royong melakukan langkah
yang menjunjung tinggi pada kerjasama dan tolong menolong dalam menanggulangi
masalah kelompok.
d. Integritas Usaha untuk membuat diri
bisa dengan konsisten dipercaya oleh sesama manusia dari segi perilaku dan
perkataan.
e. Mandiri yaitu selalu percaya dengan
kemampuan diri mulai dari kekuatan, pikiran dan perilaku untuk mewujudkan
aspirasi diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Indikator
28.
Disajikan narasi tentang
kasus tentang kompetensi guru SD yang profesional, peserta dapat menganalisis
persyaratan, kualifikasi, dan kompetensi guru SD yang profesional
Materi
Persyaratan, Kualifikasi, dan kompetensi guru SD yang
professional
Sub Materi
Persyaratan, kualifikasi dan kompetensi guru
Profesional
Persyaratan, kualifikasi dan kompetensi guru
Profesional
Pasal 42 UU No 20/2003 dan PP 19 tahun 2005 menyatakan bahwa
Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai
dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik
adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dimiliki guru sebelum melaksanakan
tugas sebagai pendidik profesional dan sebagai persyaratan untuk mengikuti uji
kompetensi dalam memperoleh sertifikat pendidik profesional. Kualifikasi
akademik guru yang dipersyaratkan dalam PP tersebut, meliputi:
Pendidik
untuk anak usia dini minimum D-IV Atau S1 bidang anak usia dini, kependidikan
lain, atau psikologi, dan sertifikat profesi guru untuk PAUD.
1) Pendidik pada SD/MI
minimum D-IV Atau S1 bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain atau psikologi
dan sertifikat profesi guru untuk SD/MI
2) Pendidik pada SMP/MTs
minimum D-IV atau S1 kependidikan sesuai mata pelajaran yang diajarkan dan
sertifikat profesi guru untuk SMP/MTs
3) Pendidik pada SMA/MA dan
SMK/MAK minimum D-IV Atau S1 kependidikan sesuai mata pelajaran yang diajarkan
dan sertifikat guru untuk SMA/MA.
4) Pendidik pada
SDLB/SMPLB/SMALB minimum D-IV Atau S1 program pendidikan khusus atau sarjana
yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan dan sertifikat guru untuk
SDLB/SMPLB/SMALB.
Kompetensi guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
berdasarkan PP no 19 tahun 2005 meliputi:
1) kompetensi pedagogik;
2) kompetensi kepribadian;
3) kompetensi profesional;
4) kompetensi sosial.
Indikator
29.
Disajikan materi tentang
regulasi profesi guru, peserta dapat melakukan analisis terhadap kebijakan
nasional dan regulasi mengenai guru sebagai jabatan profesional
Materi
Regulasi terkait dengan profesi guru
Sub Materi
Regulasi terkait Profesi Guru
Regulasi terkait Profesi Guru
Berbagai Kebijakan Nasional dan Regulasi Guru sebagai
Jabatan Profesional :
a. Berupa UU Dasar 1945
Bersumber
dari
1) UUD
1945 yaitu pasal 28 huruf c, e; dan pasal 31. Bunyi pasal 28 huruf c
adalah sebagai berikut : “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui
pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh
manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi
m,eningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.
2) UUD
1945 pasal 28 huruf e disebutkan sebagai berikut : “Setiap orang bebas memeluk
agama, dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran,
memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah
negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”.
3) UUD
1945 pasal 31 dikatakan sebagai berikut :
a) Setiap
warga Negara berhak mendapatkan pendidikan.
b) Setiap
warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.
c) Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.
d) Negara memprioritaskan
anggaran pendidikan sekurang-jkurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
e) Pemerintah memajukan
ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama
dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan manusia.
b. Berupa UU / Peraturan
Pemerintah Pengganti UU
1) UU
RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2) UU
RI No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
3) UU
RI No.9 Tahun 2009 Tentang Badan Hukum Pendidikan.
c. Berupa PP (Peraturan
Pemerintah)
1) Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan.
2) Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2005 Tentang Pengangkatan Tenaga
Honorer Menjadi Calon Pengawai Negeri Sipil.
3) Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru
d. Berupa Perpres (Peraturan
Presiden)
1) Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomo 110 Tahun 2006 Tentang Honorarium Bagi Ketua,
Wakil Ketua, dan Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi.
f.
Berupa Keppres (Keputusan
Preseiden)
1) Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumpun Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil.
f. Peraturan-peraturan
Pelaksanaannya
1) Inpres
(Instruksi Presiden)
2) Permen
(Peraturan Menteri)
Analisis terhadap kebijakan nasional dan regulasi
mengenai guru sebagai jabatan profesional
Secara umum hasil analisis Berbagai
kebijakan dan regulasi di atas dimaksudkan menjadi pedoman yang lebih rinci
bagi pejabat yang berkepentingan agar ada kesamaan dan kesatuan visi dan
pengertian dalam melaksanaan jabatan fungsional guru yang meliputi tugas
pokok dan pembagian tugas guru, pengangkatan, penilaian dan penetapan
angka kredit, kenaikan pengkat, pembebasan sementara, pengangkatan
kembali, dan pemberhentian dari jabatan guru.
Proses pendidikan bertujuan untuk
mendapatkan mutu sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan kebutuhan
pembangunan. Pendukung utama bagi terlaksananya sasaran tersebut ialah
melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu dibawah bimbingan dan pembinaan tenaga
kependidikan yang professional serta implementasi seluruh komponen manjemen
mutu secara terpadu.
Indikator
30.
Disajikan sebuah kasus
etika profesi guru, peserta dapat mengenali sanksi pelanggaran kode etik guru
Materi
Etika Profesi Guru
Sub Materi
Etika Profesi Guru
Kode Etik Guru
Sebagai seorang guru tentunya mempunyai kode etik yang
harus dipatuhi, yaitu :
1.
Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia
pembangunan yang ber-Pancasila.
2.
Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai
dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3.
Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang
anak didik, tetapi menghindari diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4.
Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan
dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5.
Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya
maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6.
Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha mengembangkan
dan meningkatkan mutu profesinya.
7.
Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik
berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8.
Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu
organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
9.
Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakan pemerintah
dalam bidang pendidikan.
Sanksi Kode Etik
1.
Teguran
2.
Peringatan tertulis
3.
Penundaan pemberian hak guru
4.
Penurunan Pangkat
5.
Pemberhentian dengan hormat
6.
Pemberhentian tidak dengan hormat
Indikator
31.
Disajikan beberapa ragam
teks peserta dapat menganalisis jenis teks yang disajikan
Materi
Ragam Teks
Sub Materi
Teks
Faktual, Teks Tanggapan, Teks Cerita, dan Teks Normatif
Ragam
Teks
1. Teks
Faktual
Teks faktual adalah teks yang berisi suatu
kejadian yang bersifat nyata, benar-benar terjadi, tetapi tidak terikat dengan
waktu. Dengan kata lain, suatu kejadian yang faktual bisa terjadi di masa lalu
ataupun masa sekarang. Teks faktual dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
teks deskripsi dan teks prosedur/arahan.
a.
Teks deskripsi
Teks deskripsi adalah sebuah teks/wacana
yang disampaikan dengan cara meggambarkan secara jelas objek, tempat atau
peristiwa yang sedang menjadi topik kepada pembaca, sehingga pembaca seolaholah
merasakan langsung apa yang sedang diungkapkan dalam teks tersebut.
b.
Teks prosedur/arahan
Menurut Mahsun (2018), “Tujuan sosial teks
ini adalah mengarahkan atau mengajarkan tentang langkah-langkah yang telah di
tentukan.” Jenis teks ini lebih menekankan pada aspek bagaimana melakukan
sesuatu, yang dapat berupa salah satunya percobaan atau pengamatan.
2. Teks
Tanggapan
Teks tanggapan adalah teks yang berisi
sambutan terhadap ucapan (kritik, komentar, dan sebagainya) dan apa yang
diterima oleh pancaindra, bayangan dalam angan-angan. Teks tanggapan dibedakan
menjadi dua buah teks, yaitu teks eksposisi dan teks ekplanasi.
a.
Teks eksposisi
Teks ini berisi paparan gagasan atau
usulan sesuatu yang bersifat pribadi. Itu sebabnya, teks ini sering juga
disebut sebagai teks argumentasi satu sisi (Wiratno, 2014). Struktur berpikir
yang menjadi muatan teks ekposisi adalah: tesis/pernyataan pendapat dan
alasan/argumentasi, serta pernyataan ulang pendapat.
b.
Teks eksplanasi
Teks eksplanasi adalah teks yang berisi
penjelasan tentang proses terjadinya fenomena alam, sosial, ilmu pengetahuan
dan budaya (Priyatni, 2014). Teks eksplanasi memiliki fungsi sosial menjelaskan
atau menganalisis proses muncul atau terjadinya sesuatu. Tujuan dari teks ini
adalah memaparkan sesuatu agar bertambah pengetahuan.
3. Teks
Cerita
Teks cerita adalah teks yang menuturkan
bagaimana terjadinya suatu hal, peristiwa, kejadian, perbuatan, pengalaman, dan
sebagainya.
a.
Teks cerita ulang
Teks ini memiliki tujuan sosial
menceritakan kembali peristiwa pada masa lalu agar tercipta semacam hiburan
atau pembelajaran berdasarkan pengalaman masa lalu bagi pembaca atau
pendengarnya.
b.
Teks anekdot
Anekdot dapat diartikan sebagai cerita
rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat
(Oktarisa, 2014). Teks anekdot memiliki tujuan sosial yang sama dengan teks
cerita ulang (Mahsun, 2018). Hanya saja, peristiwa yang ditampilkan membuat
pasrtisipan yang mengalaminya merasa jengkel atau konyol (Wiratno, 2014).
Pada teks cerita ulang berakhir dengan
kejadian tanpa ditampakkan reaksi pelaku terhadap peristiwa yang dialaminya,
sedangkan pada teks anekdot reaksi pelaku atas peristiwa yang dialaminya
ditampakan secara eksplisit.
c.
Teks eksemplum
Pendapat Mahsun (2018), “Teks ini memiliki
tujuan sosial menilai perilaku atau karakter dalam cerita.
Struktur akhir teks itu adalah
interpretasi penulis terhadap kejadian yang dialami pelaku, dan diharapkan
dapat menjadi bahan renungan moralitas bagi partisipan.
d.
Teks Naratif
Menurut Mahsum (2018), “Teks naratif model
penceritaan pada teks tipe ini, antara masalah dengan pemecahan masalah tidak
menyatu dalam satu struktur teks seperti pada teks penceritaan ulang, anekdot,
dan eksemplum.” Ia terpisah dalam struktur teks yang berbeda. Itu sebabnya,
teks tipe ini memiliki struktur berpikir: judul, pengenalan/orientasi,
masalah/komplikasi, dan pemecahan masalah.
Perbedaan mendasar teks cerita ulang
dengan teks naratif, anekdot, dan eksemplum, terletak pada sudut pSaudarang
dalam melihat peristiwa yang diceritakan. Teks cerita ulang memSaudarang
peristiwa sebagai sesuatu yang wajar atau lazim terjadi, sedangkan teks
naratif, anekdot, dan eksemplum memSaudarang peristiwa sebagai sesuatu yang
tidak lazim.
4. Teks
Normatif
Teks normatif adalah teks yang isinya
ditulis berdasarkan sebuah peraturan, norma-norma atau peraturan yang berlaku,
baik di lingkungan masyarakat maupun dalam lingkungan kenegaraan yang berkaitan
dengan hukum atau undang-undang. Teks normatif biasanya memiliki unsur tentang
agama atau nilai kebaikan.
Indikator
32.
Disajikan teks satuan
bahasa tertentu, peserta mampu menganalisis paragraf yang memenuhi persyaratan
paragraf yang baik.
33.
Disajikan teks satuan
bahasa tertentu, peserta dapat menganalisis satuan bahasa yang tepat.
34.
Disajikan teks satuan
bahasa tertentu, peserta mampu menganalisis struktur kalimat yang efektif.
Materi
Satuan Bahasa
Sub Materi
Kata, Kalimat, Paragraf,
Satuan Bahasa
Satuan bahasa pembentuk teks terdiri atas kata, frasa,
klausa, kalimat dan paragraf.
·
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang
dapat berdiri sendiri.
·
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih
yang bersifat nonpredikatif.
·
Klausa adalah satuan gramatikal yang
berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan
berpotensi menjadi kalimat.
·
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara
relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual
ataupun potensial terdiri atas klausa.
1) Kalimat
Kalimat
adalah satuan gramatikal yang disusun oleh konstituen dasar dan intonasi final.
Konstituen dasar itu dapat berupa klausa, frase, maupun kata (Keraf, 2000).
Contohnya:
a. Aldo membeli buku (klausa) b. Buku baru! (frase) c. Buku! (kata)
a) Klasifikasi kalimat
Berdasarkan
jumlah klausanya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat bersusun,
dan kalimat majemuk.
(1) Kalimat Tunggal
Kalimat
tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas.
Contoh:
(a) Dia datang dari Bandung. (b) Nenekku masih sehat.
(2) Kalimat bersusun
Kalimat
bersusun adalah kalimat yang terjadi dari satu klausa bebas dan
sekurang-kurangnya satu kalimat terikat.Ada beberapa sebutan untuk sebutan
kaliat bersusun, misalnya kalimat majemuk bertingkat, atau kalimat majemuk
subordinatif.
Contoh:
(a)
Kalau Alya menangis, Aldo pun ikut menangis.
(b)
Aldo tidak pergi ke sekolah karena sedang sakit.
(c)
Karena ada banyak siswa yang tidak siap, ujian dibatalkan.
(3) Kalimat Majemuk
Kalimat
majemuk adalah kalimat yang terjadi dari beberapa klausa bebas yang disebut
juga sebagai kalimat setara.
Contoh:
(a)
Alya membuka jendela kaar lalu membersihkan tempat tidur.
(b)
Aldo hobi bermain bola dan sering menciptakan gol.
Berdasarkan
struktur klausanya, kalimat dibedakan menjadi:
(1) Kalimat Lengkap Kalimat lengkap adalah
kalimat yang mengandung klausa lengkap. Sekurang-kurangnya terdapat unsur objek
dan predikat.
Contoh:
(a) Ibu guru mengajar bahasa Indonesia di depan kelas. (b) Adik bermain sepeda
di halaman rumah.
(2) Kalimat Tidak Lengkap Kalimat tidak
lengkap adalah kalimat yang hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja,
objek saja, atau keterangan saja.
Contoh:
(a) Selamat Pagi! (b) Silakan antre! (c) Alya!
Berdasarkan
amanat wacana, kalimat dibedakan menjadi:
(1) Kalimat deklaratif
Kalimat
deklaratif adalah kalimat yang mengandung intonasi deklaratif yang dalam ragam
tulis diberi tanda titik.
Contoh:
(a) Gaji guru honor tidak dinaikan.
(2) Kalimat introgatif Kalimat introgatif
adalah kalimat yang mengandung intonasi introgatif, yang dalam ragam tulis
biasanya diberi tanda Tanya.
(a) Apakah Saudara seorang guru?
(3) Kalimat imperatif
Kalimat
imperatif adalah kalimat kalimat yang mengandung intonasi imperatif yang dalam
ragam tulis biasanya diberi tanda seru.
(a) Berikan
hadiah ini kepada temanmu!
Ciri-ciri Paragraf yang Baik
1. Kepaduan
paragraf
Kepaduan paragraf adalah keeratan ataupun
kekompakan hubungan antar unsur-unsur paragraf, baik itu antar kalimat utama
dengan kalimat penjelasnya ataupun antar kalimat penjelas itu sendiri. Kepaduan
itu harus tampak dalam isi serta dalam bentuknya.
a.
Kepaduan isi
Kepaduan isi atau koheren adalah
kekompakan sebuah paragraf yang dinyatakan oleh kekompakan kalimat-kalimat di
dalam mendukung satu gagasan pokok. Sebuah paragraf memenuhi syarat kepaduan
isi apabila kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut tidak melenceng dari
gagasan pokoknya.
b.
Kepaduan bentuk
Kepaduan bentuk dalam suatu paragraf dapat
dilakukan dengan cara-cara berikut.
2) Penggunaan
konjungsi
a. biarpun
begitu, namun untuk menyatakan hubungan
pertentangan dengan kalimat sebelumnya;
b. sesudah
itu atau kemudian untuk menyatakan
hubungan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya;
c. selain
itu untuk menyatakan hal lain di luar yang
telah dinyatakan sebelumnya;
d. sebaliknya
untuk menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya;
e. sesungguhnya
untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya.
3) Pengulangan
kata atau frase
4) Pemakaian
kata ganti atau kata yang sama maknanya
5) Pemakaian
kata yang berhiponimi, yakni kata yang merupakan bagian dari kata lainnya.
2. Kesatuan
Paragraf
Kesatuan paragraf adalah bagian karangan
yang terdiri dari beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh, padu, dan
membentuk satu kesatuan pikiran.
3. Kelengkapan
Paragraf yang baik harus memiliki
unsur-unsur paragraf yang lengkap seperti gagasan pokok, kalimat utama, dan
kalimat penjelas.
4. Ketepatan
pemilihan kata
Pemilihan kata harus sesuai dengan situasi
dan kondisi pemakainya.Pemakaian kata dia, misalnya, tidak tepat digunakan
untuk orang yang usianya lebih tua, yang tepat adalah kata beliau.Demikian pula
halnya dengan kata menonton, kata ini tidak tepat bila digunakan dalam paragraf
yang menyatakan maksud melihat orang sakit.Dalam hal ini kata yang harus
digunakan adalah mengunjungi, menjenguk, atau menengok. (Kosasih &
Hermawan, 2012)
Ciri-Ciri
Dan Syarat Kalimat Efektif
Ciri-Ciri
Kalimat Efektif
1.
Kesepadanan Struktur
2.
Keparalelan Bentuk
3.
Ketegasan Makna
4.
Kecermatan Penalaran
5.
Kepaduan Gagasan
6.
Kelogisan Bahasa
Sedangkan syarat-syaratnya adalah:
1.
Memiliki Struktur yang Baik
2.
Tidak Ambigu
3.
Logis atau Sesuai Nalar
4.
Menghemat Kata
5.
Sistematis
Indikator
45.
Disajikan teks fiksi
peserta dapat menggunakan struktur, jenis, dan kaidah pada teks fiksi
Materi
Teks Fiksi
Sub Materi
Struktur, Fungsi, dan Kaidah Kebahasaan
Teks Fiksi
Teks fiksi adalah teks yang berisi kisahan atau cerita
yang dibuat berdasarkan imajinasi pengarang (Kosasih dan Kurniawan, 2019).
Unsur-unsur
1) Tema
2) Perwatakan
3) Alur
4) Latar
5) Amanat
Struktur, Fungsi dan Kaidah Kebahasaan Teks Fiksi
Teks fiksi memiliki struktur sebagai berikut:
1) Orientasi,
berisi pengenalan tema, tokoh, dan latar.
2) Komplikasi,
berisi cerita tentang masalah yang dialami tokoh utama. Pada bagian ini peristiwa-peristiwa
di luar nalar ini biasanya terjadi.
3) Resolusi,
merupakan bagian penyelesaian dari masalah yang dialami tokoh.
Menurut Kosasih (2019), teks fiksi terdiri atas cerita
rakyat, cerita fantasi, cerita pendek, cerita inspiratif, puisi rakyat, puisi
baru, dan drama.
a.
Cerita rakyat
Cerita rakyat merupakan cerita yang
berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan disampaikan secara
turun-temurun. Selain sebagai media hiburan, cerita rakyat berfungsi sebagai
sarana pendidikan, menyampaikan pesan-pesan moral.
Struktur : orientasi, komplikasi,
resolusi, evaluasi dan koda (pesan moral)
b.
Cerita fantasi
Cerita fantasi merupakan cerita yang
sepenuhnya dikembangkan berdasarkan khayalan, imajinasi, atau fantasi (Kosasih,
2019). Cerita fantasi tidak mungkin terjadi di alam nyata. Misalnya, binatang
yang berperilaku seperti manusia, seseorang yang bisa terbang atau menghilang.
Struktur : orientasi, komplikasi dan
resolusi
c.
Cerita pendek
Cerita pendek (cerpen) adalah cerita
rekaan yang menurut wujud fiksinya berbentuk pendek (Kosasih, 2019).
Struktur : orientasi, komplikasi dan
resolusi
d.
Cerita inspiratif
Cerita inspiratif merupakan jenis teks
narasi yang menyajikan suatu inspirasi keteladanan kepada banyak orang
(Kosasih, 2019).
Struktur : orientasi, komplikasi,
resolusi, evaluasi dan koda (pesan moral)
e.
Puisi rakyat
Puisi rakyat merupakan jenis puisi yang
berkembang pada kehidupan masyarakat sehari-hari; sebagai suatu tradisi
masyarakat setempat (Kosasih, 2019).
1)
Pantun
2)
Syair
f.
Puisi baru
Puisi baru disebut juga puisi bebas. Puisi
baru merupakan puisi tidak terikat oleh jumlah larik, suku kata, ataupun pola
rimanya (Kosasih, 2019).
g.
Drama
Drama adalah cerita konflik manusia dalam
bentuk dialog, yang diekspresikan dengan menggunakan percakapan dan lakuan pada
pentas di hadapan penonton. Struktur dama berbentuk alur atau babak dan adegan
yang pada umumnya tersususn sebagi berikut.
1) Prolog
adalah pembukaan atau pendahuluan dalam sebuah drama. Bagian ini biasanya
disampaikan oleh tukang cerita untuk menjelaskan gambaran para pemain, latar,
dan sebagainya.
2) Dialog
merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang diharapkan dapat
menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang dihadapi, dan
bagaimana manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya.
Di dalam dialog ini tersaji urutan
peristiwa yang dimulai dari orientasi, komplikasi, dan resolusi.
(1) Orientasi,
adalah bagian awal cerita yang menggambarkan situasi yang sedang, sudah atau
sedang terjadi.
(2) Komplikasi,
berisi tentang konflik dan pengembangannya, gangguan, halangan dalam mencapai
tujuan, atau kekeliruan yang dialami tokoh utamanya. Pada bagian ini dapat
diketahui watak tokoh utama.
(3) Resolusi,
adalah bagian klimaks dari drama, berupa babak akhir cerita yang menggambarkan
penyelesaian atau konflik yang dialami para tokohnya. Resolusi harus
berlangsung secara logis dan memiliki kaitan yang wajar dengan kejadian
sebelumnya.
(4) Epilog
adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi untuk menyampaikan inti
sari cerita atau menafsirkan maksud cerita.
Indikator
46.
Disajikan teks
puisi/cerita tertentu peserta dapat menganalisis struktur, jenis, dan kaidah
berdasarkan teks nonfiksi yang disajikan.
Materi
Teks Non Fiksi
Sub Materi
Struktur, Fungsi, dan Kaidah Kebahasaan
Teks Non Fiksi
Teks nonfiksi dapat diartikan sebagai karya seni yang
sifatnya berdasarkan fakta dan kenyataan serta ada kebenaran di dalamnya.Trim
(2014) menjelaskan bahwa teks nonfiksi ialah tulisan berbasis data dan fakta
sebenarnya disajikan dengan gaya bahasa formal atau nonformal berupa
argumentasi, eksposisi, atau deskripsi.
a. Esai
Esai adalah karangan prosa yang membahas suatu
masalah tertentu melalui sudut pandang penulisnya. Esai yang
ditulis haruslah logis dan mudah dimengerti, serta didukung oleh fakta dan
opini-opini dari penulisnya.
Secara umum struktur esai memiliki tiga
bagian utama. Selain judul, sebuah esai memiliki bagian secara berurutan berupa
(1) pendahuluan, (2) bagian inti, dan (3) Simpulan.
Kaidah kebahasaain esai : kata baku,
kalimat efektif, dan makna lugas.
b. Review
buku/artikel
Struktur review buku :
(1) Pendahuluan,
yang berisiidentifikasi bukuatau bab buku, atau artikel (penulis, judul, tahun
publikasi, dan informasi lain yang dianggap penting).
(2) Ringkasan
atau uraian pendek mengenaiisi argumen dari buku/bab buku/artikel.
(3) Inti
reviu, berupa inti pembahasan buku/babbuku/artikel yang merupakan analisis
kritis dari aspek pokok yang dibahas dalam buku/bab buku/ artikel itu. Pada
bagian ini penulisreviu menyampaikan bukti analisis dari dalam
buku/babbuku/artikel atau membandingkannya dengan sumber ilmiah lain.Pada
bagian ini juga penulis reviu dapat mengungkapkan kelebihan serta kekurangan
dari buku/bab buku/artikel yang dia analisis.
(4) Simpulan,
Fungsi Review buku/artikel :
(1) Menunjukan
pSaudarangan atau penilaian penulis reviu terhadap buku/bab buku/atau artikel
(2) Memberikan
informasi kepada pembaca tentang kelayakan yang dimiliki buku/bab buku/artikel
(3) Membantu
pembaca untuk mengetahui isi buku/bab buku/artikel
(4) Memberikan
informasi kepada pembaca tentang kelebihan dan kekurangan buku/bab buku/artikel
yang di reviu
(5) Mengetahui
perbandingan buku/bab buku/artikel dengan karya lain yang sejenis
(6) Memberikan
informasi yang komprehensif tentang buku/bab buku/artikel yang di reviu
(7) Memberikan
pertimbangan kepada pembaca apakah buku/bab buku/artikel yang direviu pantas
untuk dijadikan refrensi atau tidak
(8) Memudahkan
pembaca dalam memahami hubungan antara buku/bab buku/artikel dengan buku
sejenis lainnya
(9) Memberikan
pertimbangan bagi pembaca sebelum memutuskan untuk memilih, membeli dan
menikmati buku atau artikel.
c. Artikel
ilmiah
Artikel ilmiah berbasis penelitian adalah
bentuk tulisan yang memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan.
Struktur :
1) Artikel
berbasis penelitian
a. Abstrak
b. Pendahuluan
c. Metode
penelitian
d. Temuan
penelitian
e. Pembahasan
f. Kesimpulan,
rekomendasi dan implikasi
2) Artikel
berbasis kajian Pustaka
a. Abstrak
b. Pendahuluan
c. Konsep
A
d. Dst
e. Kesimpulan,
rekomendasi dan implikasi
Indikator
47.
Disajikan teks cerita
peserta dapat menganalisis struktur/unsur dan makna cerita yang disajikan
tersebut;
48.
Disajikan narasi tentang
kompetensi dasar struktur puisi/cerita dengan karakteristik konteks lingkungan
sekolah tertentu, peserta dapat menganalisis tujuan, bahan ajar, sumber
belajar, media, dan perangkat penialaian yang tepat
49.
Disajikan teks puisi
tertentu, peserta dapat menganalisis makna puisi yang sesuai dengan isi
puisi/cerita tersebut.
50.
Disajikan narasi tentang
kompetensi dasar menulis puisi/cerita dengan tema tertentu berdasarkan konteks
lingkungan tertentu (sep sekolah dll), peserta dapat menganalisis tujuan, bahan
ajar, sumber belajar, media, dan perangkat penilaian yang tepat di
Materi
Karya Sastra dan Teori Sastra
Sub Materi
Karya sastra
(Puisi/Pantun,Fabel/Cerita Rakyat/Cerita Anak). Teori Sastra (Struktur Puisi,
Struktur Prosa/Cerita)
Karya Sastra
1.
Puisi
Puisi sebagai salah satu karya kreatif
yang diwujudkan dalam bentuk Bahasa. Berikut ini unsur yang tergolong unsur
intrinsik puisi adalah:
a. Tema,
yaitu ide atau gagasan yang menduduki tempat utama di dalam cerita
b. Rasa,
yaitu dapat diartikan emosional seorang penyair dalam menulis puisi.
c. Nada,
yaitu dalam puisi seseorang dapat menangkap sikap penyair lewat intonasi atau
nada saat menyampaikan puisi.
d. Amanat,
yaitu pesan-pesan yang ingin disampaikan pengarang kepadapembaca, pendengar,
atau penonton.
e. Diksi
(Pilihan kata), yaitu hal yang penting untuk keberhasilan menulis puisi yang
dicapai dengan mengintensifkan pilihan kata.
f. Imajeri,
yaitu suatu kata atau kelompok kata yang digunakan untuk mengungkapkan kembali
kesan-kesan panca indra dalam jiwa kita.
g. Pusat
pengisahan atau titik pSaudarang, yaitu cara penyampaian cerita, ide, gagasan,
atau kisahan cerita.
h. Gaya
bahasa, yaitu cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa.
i. Ritme
atau irama, yaitu totalitas tinggi rendahnya suara, panjang pendek, dan cepat
lambatnya suara waktu membaca puisi yang dibentuk oleh pengaturan larik.
j. Rima
atau sajak, yaitu persamaan bunyi yang dapat terjadi di awal, tengah, dan
akhir.
2. Prosa
Unsur prosa
a. Plot
atau alur cerita, yaitu urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita
b. Penokohan,yaitu
cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam
cerita.
c. Latar
atau setting,yaitu segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan
waktu, ruang, suasana dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita.
d. Tema,
yaitu gagasan,ide,atau pikiran utama yang mendasari suatu karya.
e. Pesan
atau amanat, yaitu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh
pengarang melalui karyanya.
f. Sudut
pSaudarang, yaitu cara memSaudarang dan menhadirkan tokohtokoh cerita dengan
menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
g. Konflik,
yaitu penyajian tikaian dalam sebuah cerita.
3.
Fabel
Fabel merupakan cerita rakyat menokohkan binatang sebagai
lambing pengajaraan moral.
4.
Cerita Rakyat
Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang disetiap daerah
dan menceritakan asal usul atau legenda yang terjadi disuatu daerah; cerita
yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat. Cerita rakyat
merupakan bagian dari dongeng.
Unsur instrinsik
a.
Tema
b.
Alur
c.
Latar
d.
Tokoh dan penokohan
e.
Sudut pandang
f.
Amanat
Unsur
Ekstrinsik
Adalah unsur yang berada
di luar karya sastra atau cerita namun turut menetukan bentuk dan isi suatu
karya/cerita. Unsur-unsur eksttrinsik cerita rakyat, yaitu : agama, politik,
moral, aliran pengarang, psikologi, sejarah, sosial budaya, dan lain-lain.
Indikator
51.
Menyelesaikan masalah terkait
perbandingan dan skala dalam kontek bilangan.
52.
Menyelesaikan masalah
sehari-hari terkait pecahan dalam soal cerita.
53.
Disajikan narasi
pembelajaran tentang bilangan peserta dapat memperbaiki tahap pembelajaran
tentang pemecahan masalah bilangan
Materi
Bilangan
Sub Materi
Pemecahan masalah matematis materi Bilangan ( bulat,
pecahan, persen, perbandingan, skala, KPK dan FPB)
Perbandingan senilai
Perbandingan senilai adalah suatu perbandingan yang
apabila suatu nilai ditambah maka jumlah pembandingnya juga bertambah.
Contoh
Jika harga 5 kg rambutan adalah Rp75.000,00, berapakah
harga 7 kg rambutan?
Jawab :
5 kg = 75000
7 kg = ………
5/7 = 75000/x
5x = 7x75000
5x = 525000
X = 525000/5
X = 105000
Perbandingan berbalik nilai
Perbandingan berbalik nilai adalah perbandingan yang
apabila nilainya ditambah maka nilai pembandingnya berkurang.
Contoh :
Pada sebuah peternakan terdapat 40 ayam. Untuk 40 ayam
tersebut disediakan sebuah karung makanan ayam yang akan habis dalam waktu 5
hari. Karena adanya wabah virus, ayam yang tersisa hanya 25 ayam. Cukup untuk
berapa harikah satu karung pakan ayam?
Jawab :
40 ayam = 5 hari
25 ayam = ………
40/25=m/5
40x5=25m
200 = 25m
m = 200/25
m = 8
Skala
cara mudah mengingat
S JB S
= skala
JB = jarak sebenarnya
FPB dan KPK
SOAL KPK
Joko beli cilok setiap 4 hari sekali, Dodo beli cilok
setiap 7 hari sekali dan Bowo beli cilok setiap 6 hari sekali. Jika pada
tanggal 23 januari 2018 mereka membeli cilok bersama sama, pada tanggal berapa
merekaakan datang beli cilok bersama-sama untuk yang ke 4 kalinya?
Jawab KPK dari 4, 6 dan 7 adalah 84.
4 = 22
6 = 2x3
7 = 7
KPK = 4 x 3 x 7 = 84
Keempat kalinya 84 x 3 = 252 hari.
Januari 31 – 23 =
8
Februari =
28
Maret =
31
April =
30
Mei =
31
Juni =
30
Juli
= 31
Agustus =
31
2 Oktober
Soal FPB
Sebuah bak mandi mempunyai dua buah kran, yaitu kran
besar dan kran kecil. Jika kran kecil dibuka dan kran besar ditutup, bak mandi
akan penuh setelah 60 menit. Jika kran besar dibuka dan kran kecil ditutup, bak
mandi akan penuh dalam waktu 40 menit. Berapa menit dibutuhkan untuk memenuhi
bak mandi jika kedua kran dibuka?
Jawab =
60 = 22 x 3 x 5
40 = 23 x 5
FPB 22 x 5 = 20
Indikator
54.
Disajikan masalah
kehidupan sehari hari tentang kesebangunan pada segitiga atau segiempat peserta
dapat menerapkan kesebangunan yang ada pada segitiga atau segiempat yang
diberikan
55.
Disajikan masalah
kehidupan sehari hari terkait bangun datar dan bangun ruang peserta dapat
membandingkan unsur-unsur matematis tentang segitiga, segi empat, prisma dan
limas
56.
Diberikan paparan
pendekatan berbasis konstruktivis dan materi bangun datar serta bangun ruang
peserta dapat merancang pembelajarannya
Materi
Geometri
Sub Materi
Konsep teoritis dan pemecahan masalah matematis pada
materi geometri (bangun datar, dan bangun ruang khususnya segitiga, segi empat,
prisma dan limas) dan menerapkan dalam pembelajaran matematika di SD.
A.
Kesebangunan pada segi
empat
Kesebangunan dan
kekongruenan biasanya digunakan untuk membandingkan dua buah bangun datar/lebih
dengan bentuk yang sama. Dua buh bangun datar dapat dikatakan sebangun apabila:
Panjang setiap sisi pada kedua bangun datar tersebut memiliki nilai perbandingan
yang sama. Sedangkan kongruen memiliki konsep yang lebih mendetail, apabila dua
buah/lebih bangun datar memiliki bentuk, ukuran, serta besar sudut yang sama
barulah mereka dapat disebut sebagai bangun datar yang kongruen. Contoh:
Perhatikan
bangun datar di bawah ini
Keduanya
merupakan bangun datar yang.............................................
1. Perbandingan
antara sisi terpanjang dengan sisi terpendek memiliki nilai yang sama
a. Perbandingan sisi terpanjang PQ dengan
sisi terpendek QR = 39 : 13 = 3 : 1
b. Perbandingan sisi terpanjang KL dengan
sisi terpendek LM = 24 : 8 = 3 : 1
c. Perbandingan sisi terpanjang RS dengan
sisi terpendek RQ = 39 : 13 = 3 : 1
d. Perbandingan sisi terpanjang MN dengan
sisi terpendek NK = 24 : 8 = 3 : 1
2. Besar
sudut pada kedua persegi panjang tersebut memiliki nilai yang sama
Sudut P = sudut K, sudut Q = sudut L,
sudut R = sudut M, sudut S = sudut N, karena kedua persegi panjang tersebut
hanya memiliki bentuk dan sudut yang sama besar namun tidak memiliki ukuran
yang sama, maka dua bangun datar tersebut tidak bisa disebut kongruen.
Contoh soal!
Ada dua buah persegi panjang dengan ukuran
yang berbeda ABCD dan KLMN, persegi panjang ABCD memiliki panjang 16 cm, lebar
4 cm. Bila persegi panjang ABCD sebangun dengan persegi panjang KLMN yang
memiliki panjang 32 cm, maka berapakah lebar persegi panjang KLMN?
karena sebangun maka berlaku rumus:
AB/KL = BC/LM
16/32 = 4/LM
LM = 32 x 4/16
LM = 124/16
LM = 8 cm
B.
Kesebangunan pada
segitiga
Kesebangunan pada segitiga agak lebih
sulit dicapai karena ada tiga buah sisi yang harus sama perbandingannya.
Contoh segitiga yang sebangun:
Segitiga tersebut dapat dikatakan sebangun
karena perbandingan sisi-sisinya sama besar:
sisi AC sesuai dengan sisi PR = AC/PR = 4
: 2
sisi AB sesuai dengan sisi PQ = AB/PQ = 8
: 4
sisi BC sesuai dengan sisi QR = BC/QR = 6
: 3
maka AC/PR = AB/PQ = BC/QR = 2 : 1
sudut A= sudut P, sudut B=sudut Q, sudut
C=sudut R
Contoh soal
Diketahui
segitiga ABC sebangun dengan segitiga KLM, maka berapakah panjang LM dan MK?
AB/KL
= BC/LM
18/6
= 15/LM
3
= 15/LM
LM
= 15/3
LM
= 5 cm
Dari
hasil tersebut kita dapat mengetahui bahwa perbandingan sisi pada kedua
segitiga tersebut adalah:
18
: 6 = 3 : 1
15
: 5 = 3 : 1
12
: MK = 3 : 1
MK
= 12/3
MK
= 4 cm
Contoh
soal
Perhatikan
gambar diatas, tentukanlah berapa panjang DE?
Penyelesaian
:
Diket
:
AC
= 10 cm AB = 6 cm CD = 16 cm Dit : DE ?
Jawab
:
Perhatikan
gambar diatas, dan perhatikan sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua segitiga
tersebut.
DE/CD
= AB/BC
Karena
kita butuh panjang BC, maka kita dapat mencarinya menggunakan teorema
pythagoras.
BC²
= AC²-AB²
BC²
= 10² – 6²
BC²
= 100 – 36
BC²
= 64
BC
= √64
BC
= 8
Selanjutnya
kita kembali pada persamaan diatas untuk menghitung panjang DE.
DE/CD
= AB/BC
DE/16
= 6/8
8×DE
= 16×6
8×DE
= 96
DE
= 96/8
DE
= 12
Sehingga
panjang DE adalah 12 cm.
C.
Prisma
D.
Limas
Limas adalah bangun ruang yang mempunyai
alas berbentuk segi-n dan bidang tegak nya berbentuk segitiga yang salah satu
sudutnya bertemu di satu titik, titik tersebut desebut dengan puncak limas.
Tinggi limas merupakan jarak terpendek yang dimiliki limas dari puncak limas ke
sisi alas. Tinggi limas harus tegak lurus dengan titik potong pada bidang
alasnya
Ciri-ciri limas :
a. Memiliki satu sisi alas dan tidak
memiliki sisi atap (tutup)
b. Titik puncak dan titik sudut sisi alas
dihubungkan oleh rusuk tegak.
c. Semua sisi tegak limas berbentuk
segitiga
E.
Pendekatan berbasis
konstruktivisme
Proses pembelajaran
matematika dengan pendekatan konstruktivisme adalah pembelajaran matematika
yang tidak hanya menjadikan matematika sebagai pelajaran menghafal rumus-rumus
dan prosedural dalam mengerjakan soal. Karena menurut teori belajar
konstruktivisme pada dasarnya tiap individu sejak kecil sudah memiliki
kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan bukanlah
hasil “pemberian” orang lain, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang
dilakukan setiap individu. Pengetahuan akan tersusun atau terbangun di dalam
pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya mengorganisasikan pengalaman barunya
berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada dalam pikirannya. Dalam
pembelajaran guru tidak hanya memindahkan pengetahuannya, akan tetapi guru
hanya memfasilitasi siswa dalam belajar. Dengan melibatkan siswa dalam
pembelajaran matematika, maka diharapkan fenomena “fobia matematika” yang
merajalela di kalangan siswa-siswa dan fenomena pembelajaran matematika yang
hanya mengedepankan pengembangan aspek kognitif saja melalui proses prosedural
di Indonesia sedikit demi sedikt dapat dieliminasi. Untuk dapat melaksanakan
pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme guru dituntut untuk
kreatif dan inovatif dalam menentukan metodemetode pembelajaran yang tepat dan
sesuai dengan konsep teori belajar konstruktivisme. Kelemahan pendekatan
konstruktivisme yang harus dapat disiasati oleh guru antara lain, bagi siswa
yang sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu, maka siswa akan merasa
kesulitan dalam menemukan jawabannya sendiri.
Cara Mengajarkan Matematika Dengan
Menggunakan Pendekatan Konstruktivisme
Secara umum, Pembelajaran matematika
dengan metode pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap :
1. Tahap
apersepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa),
siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan
dibahas. Bila perlu, guru memancing dengan pertanyaan problematis tentang
fenomena yang sering dijumpai sehari – hari oleh siswa dan mengaitkannya dengan
konsep yang akan dibahas. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan untuk
mengkomunikasikan dan mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep tersebut,
2. Tahap
eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep
melalui pengumpulan, pengorganisasian dan menginterprestasikan data dalam suatu
kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Secara keseluruhan pada tahap ini akan
terpenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena dalam lingkungannya,
3. Tahap
diskusi dan penjelasan konsep siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang
didasarkan pada hasil observasi siswa, di tambah dengan penguatan guru.
Selanjutnya, siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang
dipelajari, dan
4. Tahap
pengembangan dan aplikasi konsep guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran
yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik
melalui kegiatan maupun melalui pemunculan masalah–masalah yang berkaitan
dengan isu–isu dalam lingkungan siswa tersebut. (Horsley, 1990:59).
Hal-hal yang harus
dilakukan oleh guru agar dapat mengajarkan matematika dengan menggunakan
pendekatan konstruktivisme adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyelesaikan masalah matematika dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang
dimiliki dalam pikirannya, artinya siswa diberi kesempatan melakukan refleksi,
interpretasi, berbahasa matematik, dan mencari strateginya yang sesuai
(berfikir alternatif). Rekonstruksi terjadi bila siswa dalam aktivitasnya
melakukan refleksi, interprestasi, dan internalisasi, rekonstruksi ini
dimungkinkan terjadi dengan probabilitas yang lebih besar melalui diskusi, baik
dalam kelompok kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi dan
negosiasi.
Indikator
57.
Disajikan tabel dan
diagram yang tidak lengkap peserta dapat menganalisis nilai datanya.
58.
Diberikan paparan data
tentang kemampuan membagi bilangan pecahan peserta dapat menyajikan dalam
bentuk diagram batang/garis/lingkaran
Materi
Statistika
Sub Materi
Ukuran pemusatan data dan pemecahan masalah matematis
pada materi statistika.
Ukuran pemusatan data dan pemecahan masalah matematis
pada materi statistika
Ukuran pemusatan data adalah nilai
tunggal dari data yang dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan singkat
mengenai keadaan pusat data yang dapat mewakili seluruh data.
A.
Rata-rata Hitung (mean)
Rerata atau mean merupakan salah satu
ukuran gejala pusat. Mean merupakan wakil kumpulan data.
Untuk menentukan rata-rata hitung data
tunggal dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh nilai data dan membagi
dengan banyak data.
B.
Median
Median (Me) adalah nilai tengah dari sekumpulan
data yang telah diurutkan, mulai dari data terkecil sampai dengan data
terbesar.
C.
Modus
Modus adalah untuk menyatakan fenomena
yang paling banyak terjadi atau data yang paling sering muncul. Modus ini bila
dibandingkan dengan ukuran lainnya, tidak tunggal adanya. Berarti sekumpulan
data bisa mempunyai lebih dari sebuah Modus.
Contoh:
Diketahui : 65, 70, 90, 40, 40, 40, 40,
35, 45, 70, 80, 50.
Tentukan Modus dari data tersebut!
Setelah diurutkan datanya menjadi : 35, 40
, 40, 40, 40, 45, 50, 65, 70, 70, 80, 90
Jadi Mo = 40
Indikator
59.
Disajikan masalah tentang
gerak alat transportasi yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari hari
peserta dapat menentukan jarak, waktu dan kecepatannya
60.
Disajikan barisan
bilangan aritmatika peserta dapat menentukan rumus suku dan jumlah ke n
Materi
Kapita Selekta
Sub Materi
Konsep teoritis dan pemecahan masalah matematis pada
materi kapita selekta (pola bilangan, aljabar, trigonometri dan logika)
Jarak, Waktu dan Kecepatan
Kecepatan menyatakan cepat atau lambat pergerakan
sebuah benda. Semakin cepat benda bergerak, maka angka kecepatannya akan
semakin tinggi. Sebaliknya, semakin lambat pergerakan sebuah benda, artinya
angka kecepatannya akan semakin kecil.
Rumus Berpapasan
1. Rumus
Berpapasan Jika Waktu Berangkat Sama
Kasus soal yang diberikan biasanya
melibatkan dua orang yang berangkat dari arah berlawanan dan melalui jalur yang
sama. Kedua orang tersebut berangkat dengan waktu keberangkatan yang sama.
Ilustrasi kasus ini dapat dilihat pada gambar di bawah.
Rumus menentukan waktu berpapasan dengan
waktu keberangkatan sama adalah sebagai berikut.
Contoh Soal 1
Dodi mengendarai sepeda dari rumahnya ke
rumah temannya, Amar, dengan jarak tempuh 10 km. Dari arah yang berlawanan,
Amar mengendarai sepeda menuju rumah Dodi. Kecepatan Dodi dan Amar
berturut-turut adalah 18 km/jam dan 12 km/jam. Jika keduanya sama-sama
berangkat pukul 09.00, maka mereka akan berpapasan pukul ….
Jawab 09.20
2. Rumus
Berpapasan Jika Waktu Berangkat Berbeda
Perhatikan ilustrasi pada kasus bagian ke
dua di bawah.
Rumus berpapasan untuk waktu keberangkatan
berbeda adalah sebagai berikut.
Contoh Soal 2
Dodi mengendarai sepeda dari rumahnya ke
rumah temannya, Amar, dengan jarak tempuh 18 km. Dari arah yang berlawanan,
Amar mengendarai sepeda menuju rumah Dodi. Kecepatan Dodi dan Amar
berturut-turut adalah 16 km/jam dan 12 km/jam. Jika Dodi berangkat pukul 08.00
dan Amar berangkat pukul 08.15 maka mereka akan berpapasan pukul ….
Jawab 08.45
Rumus Menyusul
Bentuk variasi soal seperti ini biasanya
terkait permasalahan dua orang yang berangkat dari arah sama dengan waktu dan
kecepatan berbeda. Biasanya, kecepatan orang kedua lebih besar dari kecepatan
orang pertama. Pertanyaan yang sering diberikan adalah pukul berapa orang ke
dua dapat menyusul orang pertama yang telah berangkat terlebih dahulu.
Perhatikan ilustrasinya pada gambar di
bawah.
Rumus menyusul dapat dilihat pada
persamaan di bawah.
Selisih
jarak = kecepatan x selisih waktu
Contoh Soal 3
Ada dua bus yang akan sama-sama menuju
Kota Bandung, sebut saja Bus A dan Bus B. Kedua bus tersebut akan melalui rute
yang sama. Bus A berangkat dari terminal Yogyakarta dengan kecepatan 60 km/jam.
Sedangkan bus B juga berangkat dari Yogyakarta dengan kecepatan 75 km/jam. Jika
bus A berangkat pukul 13.00 dan bus B berangkat pukul 15.30 maka bus B dapat
menyusul bus A pada pukul ….
Jawab. 17.30
Rumus Suku dan Jumlah ke n
Rumus Jumlah ke-n
Contoh
Tentukanlah jumlah semua bilangan asli antara 200 dan
299 yang habis dibagi 6!
Penyelesaian:
Sebelum menentukan jumlah semua bilangan asli antara
200 dan 300 yang habis dibagi 6, maka kita akan menentukan terlebih dahulu
bilangan asli antara 200 dan 300 yang habis dibagi 6.
Bilangan asli antara 200 dan 300 yang habis dibagi 6
adalah:
204, 210, 216, …, 294.
Berdasarkan barisan tersebut:
𝑎
= 204 𝑏
= 6 𝑈𝑛=
294
Sebelum menentukan jumlah, maka tentukan terlebih
dahulu banyak suku pada barisan tersebut atau kita akan mencari 𝑛.
Rumus Suku dari Barisan dan Deret Geometri
Jumlah ke n dari Barisan dan Deret Geometri
Contoh
Seutas tali dipotong menjadi 7 bagian dengan ukuran
panjangnya membentuk deret geometri. Jika panjang bagian tali yang terpendek
adalah 3 cm dan panjang bagian tali terpanjang adalah 192 cm, maka panjang tali
seluruhnya adalah ….
Penyelesaian:
𝑎
= 3,𝑈𝑛
= 192, 𝑛
= 7.
Dari permasalahan tersebut yang belum diketahui adalah
rasio, maka sebelum kita menghitung jumlah panjang tali seluruhnya, kita akan
menentukan ratio terlebih dahulu.
Indikator
61.
Diberikan langkah metode
ilmiah secara acak, peserta dapat mengurutkannya dengan benar.
Materi
Metode ilmiah
Sub Materi
Langkah metode ilmiah/Penerapan metode ilmiah dalam
pembelajaran
Langkah-langkah metode ilmiah. Berikut ini penjelasan
setiap langkah.
1. Merumuskan
Masalah, umumnya proses penelitian dimulai dengan merumuskan masalah. Tahukah
anda apa yang dimaksud dengan masalah? Dalam kajian ilmiah, masalah
didefinisikan sebagai sesuatu yang harus diteliti untuk memperoleh jawaban atas
suatu pertanyaan. Masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan ilmiah yang
bersifat terbuka yang memungkinkan adanya jawaban yang beragam. Rumusan
pertanyaan ini perlu dicari jawabannya melalui eksperimen;
2. Menemukan
Hipotesis, setelah berhasil merumuskan masalah, anda bisa mengajukan jawaban
sementara atas pertanyaan, yang bernama lain hipotesis. Tapi ingat Hipotesis
itu harus logis dan diajukan berdasarkan fakta;
3. Menetapkan
Variabel Penelitian,Variabel percobaan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
hasil penelitian. Ada tiga jenis variabel, yaitu variabel bebas, variabel
terikat/bergantung dan variabel tetap. Coba anda perhatikan, variabel tersebut
adalah:
a)
Variabel bebas, yaitu
variabel yang sengaja dirubah untuk diamati pengaruhnya terhadap hasil setiap
percobaan yang dilakukan.
b)
Variabel terikat, yaitu
variabel yang dipengaruhi yang akan diukur atau diamati sebagai hasil
percobaan.
c)
Varibel tetap, yairtu
variabel yang tidak dirubah sebagai kontrol dalam percobaan;
4. Menetapkan
Prosedur Kerja, prosedur kerja merupakan langkahlangkah kerja yang terperinci
dan runtut. Urutan langkah kerja ini dibuat ringkas namun dapat menggambarkan
secara tepat pekerjaan yang harus dilakukan. Data tersebut akan memudahkan
pelaksanaannya, langkah kerja sebaiknya dibuat dalam bentuk diagram alir;
5. Mengumpulkan
data, setiap gejala yang terjadi dalam percobaan harus dicatat saat itu juga.
Dengan begitu, anda dapat memperoleh data yang lebih akurat. Selanjutnya, anda
perlu mengorganisasi untuk memudahkan dalam menganalisis dan mengumpulkan hasil
percobaan. Oleh karena itu, anda perlu menyiapkan tabel data pengamatan sebelum
melakukan percobaan;
6. Mengolah
dan Menganalisis Data, tabel dan grafik merupakan alat yang sangat bermanfaat
untuk menyusun dan menganalisis data. Tabel dan grafik ini menampilkan
bagaimana variabel terikat berubah sebagai respon terhadap perubahan variabel
bebas. Analisis data juga dapat dilakukan dengan menggunakan program komputer
untuk pengolahan data;
7. Membuat
Kesimpulan, hasil analisis data menghasilkan suatu pola atau kecenderungan.
Pola ini dapat dijadikan landasan untuk menarik sebuah kesimpulan. Kesimpulan
adalah suatu pernyataan yang merangkum apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan
penelitian. Dalam menyusun suatu kesimpulan, Anda harus memutuskan apakah data
yang dikumpulkan mendukung hipotesis atau tidak. Hipotesis berfungsi untuk
memandu peneliti/siswa tentang variabel yang akan diteliti. Selain itu, Anda
juga harus mengulang suatu penelitian beberapa kali sebelum dapat menarik suatu
kesimpulan;
8. Mengkomunikasikan
Hasil Penelitian, mengapa harus mengkomunikasikan penelitian? Sosialisasi hasil
penelitian penting dilakukan agar hasil penelitian Anda diketahui pihak lain.
Bagaimanakah cara mengomunikasikan suatu hasil penelitian? Suatu hasil penelitian
dapat dikomunikasikan melalui dua cara, yaitu tertulis dan lisan.
Indikator
62.
Diberikan suatu gambar
model sistem organ pernafasan, peserta dapat menjelaskan proses pernafasan
perut.
63.
Diberikan beberapa
pernyataan tentang pengalaman dan pengetahuan tentang proses makan makanan,
peserta dapat memilih rumusan tentang pencernaan yang tepat.
64.
Diberikan fenomena
tentang tekanan diastole/sistole, peserta dapat menafsirkan hal-hal yang
terjadi pada bagian-bagian jantung
65.
Diberikan pernyataan
tentang rongga dada, peserta dapat mengidentifikasi tulang-tulang yang
membentuk rongga dada
Materi
Sistem organ pada manusia
Sub Materi
Sistem organ pernapasan, pencernaan, peredaran darah
dan Sistem rangka
Organ Pernafasan
Organ pernapasan manusia terdiri dari hidung dan
rongga hidung, tenggorokan (faring), batang tenggorokan (laring) trachea,
bronchus, bronciolus, alveolus paru-paru. Berikut adalah bagian-bagian organ
alat pernapasan pada manusia, perhatikan gambar di bawah ini.
Mekanisma Proses Pernapasan
Proses respirasi terdiri atas dua pengertian, yaitu:
a.
Respirasi Internal
Respirasi ini merupakan proses masuknya
oksigen dari dalam darah ke jaringan (sel) dan keluarnya karbondioksida dari
jaringan (sel) ke dalam darah. Oksigen yang masuk ke dalam s oksidasi yang
menghasilkan energi. Proses respirasi berlangsung pada organ sel yang disebut
mitokondria dan terjadi melalui empat tahap reaksi, yaitu:
1) tahap
glikolisis
2) tahap
antara glokolisis dan siklus Krebs
3) tahap
siklus Krebs disebut juga siklus asam sitrat.
4) tahap
sistem sitokrom
Dari
empat tahap kejadian di atas, respirasi mempunyai persamaan kimia sebagai
berikut:
b. Respirasi
Eksternal
Merupakan proses masuknya oksigen dari
udara luar melalui alat pernapasan ke dalam darah dan keluarnya karbondioksida
dan air dari darah ke alat pernapasan.
Dilihat dari proses pengambilan udara
pernapasan, ada dua macam respirasi, yaitu:
1) Pernapasan
perut, melibatkan otot diafragma, mekanismanya
dibedakan menjadi:
a)
Fase inspirasi, otot
diagfragma berkontraksi sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam
rongga dada mengecil udara dari luar masuk membawa O2 ;
b) Fase
ekspirasi, diagfragma relaksasi rongga dada mengecil, akibatnya tekanan dalam
rongga dada membesar dan udara keluar membawa CO2.
2) Pernapasan
dada, melibatkan otot antar tulang rusuk, mekanismanya dibedakan menjadi:
a)
Fase inspirasi, otot
antar tulang rusuk berkontraksi, sehingga rongga dada membesar, akibatnya
tekanan udara rongga dada mengecil dan udara masuk membawa oksigen;
b) Fase
ekspirasi, otot antar tulang rusuk relaksasi, akibatnya tekanan dalam rongga
dada membesar dan udara keluar membawa CO2
Sistem Pencernaan
Sistem organ pencernaan pada manusia
berfungsi menguraikan makanan secara mekanik dan secara kimiawi menjadi
moleku1- molekul yang kecil sehingga dapat diserap oleh usus, dan diedarkan
oleh sistem peredaran darah ke seluruh jaringan tubuh. Sari makanan berfungsi
sebagai sumber energi untuk kegiatan metabolisme, untuk pertumbuhan sel-sel,
dan untuk membangun serta mengganti sel-sel yang rusak. Ada beberapa
organ-organ yang berperan dalam sistem pencernaan manusia. Jika diurutkan dari
prosesnya, organ penyusun sistem pencernaan pada manusia adalah mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar dan anus. Terdapat pula enzim-enzim yang
memiliki fungsi masing-masing dalam pencernaan.
Selain itu juga terdapat organ-organ
penunjang lain dalam proses pencernaan manusia yang disebut sebagai organ
pelengkap atau aksesori, di antaranya yaitu lidah gigi, kelenjar air liur,
kantung empedu, hati dan pancreas.
Pencernaan mekanik terjadi mulai di
dalam mulut dan lambung. Proses yang terjadi di dalam mulut melibatkan gigi
untuk gerakan mekanik dalam mencerna makanan. Sementara itu, di lambung terjadi
pencernaan mekanik yang berupa gerakan seperti mengaduk atau meremas makanan.
Gerakan mekanik di dalam lambung tersebut digerakkan oleh otot polos yang
disebut sebagai gerakan peristaltik.
Pencernaan kimiawi dilakukan oleh
enzim. Enzim merupakan protein yang berfungsi sebagai biokatalis di dalam
tubuh. Enzimenzim yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi, antara
lain: Maltase, protease, lipase. Amilase.
Sistem Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular terdiri dari
jantung (kardio) dan pembuluh darah (vaskular). Sistem kardiovaskular
bertanggung jawab dalam memompa dan mengedarkan darah ke seluruh tubuh
(sirkulasi darah). Darah sendiri merupakan sarana transportasi bagi oksigen, karbon
dioksida, nutrisi, hormon, serta berbagai zat lainnya, dari dan ke seluruh
tubuh.
Sistem kardiovaskular dikenal juga
dengan sebutan sistem sirkulasi atau sistem peredaran darah. Tugas sistem
kardiovaskular adalah untuk memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, pembuluh darah, dan darah.
Dalam mekanisma kerjanya jantung
memiliki dua siklus jantung, siklus tersebut menunjukkan urutan kejadian yang
terjadi saat jantung berdetak secara sistemik. Berikut dua fase siklus jantung,
yaitu:
(1) Sistol, jaringan otot jantung berkontraksi untuk
memompa darah keluar dari ventrikel.
(2) Diastol, otot jantung rileks terjadi pada saat
pengisian darah di jantung
Tekanan darah meningkat di arteri utama selama sistol
ventrikel dan menurun selama diastol ventrikel. Hal ini menyebabkan 2 angka
yang terkait dengan tekanan darah. Tekanan darah sistolik adalah angka yang
lebih tinggi dan tekanan darah diastolik adalah angka yang lebih rendah.
Misalnya, tekanan darah 120/80 mmHg menggambarkan tekanan sistolik (120 mmHg)
dan tekanan diastolik (80mmHg).
Tekanan darah normal menunjukkan
sistolis 120 mm Hg dan Diastolis 80 mm Hg pada jantung dapat diketahui dengan
menggunakan alat ukur Tensimeter, ketika seseorang yang memiliki tekanan di
atas normal maka orangnya menderita Hipertensi (tekanan darah tinggi) demikian
pula ketika di bawah tekanan darah normal orangnya menderita Hipotensi (tekanan
darah rendah). Menurut American Heart Association, denyut jantung istirahat
rata-rata: Anak-anak 10 tahun, dewasa yang lebih tua, dan manula: 60-100 denyut
per menit (Beats Per Minute) Atlet pro terlatih adalah 40- 60 denyut per menit
(BPM). Mengapa denyut jantungnya berbeda?
Sirkulasi sistemik. Disebut juga
dengan peredaran besar, merupakan sirlukasi darah yang mencakup seluruh tubuh.
Sirkulasi ini berlangsung ketika darah yang mengandung oksigen mengisi serambi
kiri jantung melalui vena pulmonalis, usai melakukan pelepasan karbon dioksida
di paru-paru. Kemudian, darah yang sudah berada di serambi kiri diteruskan ke
bilik kiri, untuk selanjutnya disalurkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh
darah utama (aorta). Darah yang dipompa melewati aorta akan terus mengalir
hingga ke bagian paling tepi di seluruh area tubuh. Setelah menyalurkan
berbagai zat yang dibawanya ke sel-sel tubuh, darah akan mengalir kembali
menuju serambi kanan jantung untuk mengalami proses pembersihan darah.
Sirkulasi pulmonal (paru). Disebut
juga dengan peredaran darah kecil, ini merupakan sirkulasi darah dari jantung
menuju paru-paru, dan sebaliknya. Sirkulasi ini berlangsung saat darah yang
mengandung karbon dioksida dari sisa metabolisme tubuh kembali ke jantung
melalui pembuluh vena besar (vena cava). Lalu, memasuki serambi kanan dan
diteruskan ke bilik kanan jantung. Selanjutnya, darah yang sudah berada di
bilik kanan akan dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, untuk
melakukan pertukaran gas karbon dioksida dengan oksigen. Setelah itu, darah
bersih yang kaya oksigen akan memasuki serambi kiri jantung melalui vena
pulmonalis.
Sirkulasi koroner. Sama seperti organ
tubuh lain, jantung juga membutuhkan asupan oksigen dan nutrisi supaya dapat
menjalankan fungsinya dengan baik. Darah yang menutrisi jantung akan dialirkan
melalui arteri koroner ke otot-otot jantung. Maka dari itu, sumbatan pada
arteri koroner bisa mengurangi aliran oksigen dan nutrisi ke otot jantung,
sehingga meningkatkan risiko terkena serangan jantung
Tulang-Tulang Yang Membentuk Rongga Dada
Tulang dada
Tulang dada termasuk tulang pipih,
terletak di bagian tengah dada. pada sisi kiri dan kanan tulang dada terdapat
tempat lekat dari rusuk. bersama-sama dengan rusuk, tulang dada memberikan
perlindungan pada jantung, paru-paru dan pembuluh darah besar dari kerusakan
Tulang dada tersusun atas 3 tulang yaitu:
tulang hulu / manubrium. terletak di
bagian atas dari tulang dada, tempat melekatknya tulang rusuk yang pertama dan
kedua
Tulang badan / gladiolus, terletak
dibagian tengah, tempat melekatnya tulang rusuk ke tiga sampai ke tujuh,
gabungan tulang rusuk ke delapan sampai sepuluh.
Tulang taju pedang / xiphoid process,
terletak di bagian bawah dari tulang dada. Tulang ini terbentuk dari tulang
rawan
Tulang Rusuk
Tulang rusuk berbentuk tipis, pipih dan
melengkung. bersama-sama dengan tulang dada membentuk rongga dada untuk
melindungi jantung dan paru-paru. Tulang rusuk dibedakan atas tiga bagian
yaitu:
Tulang rusuk sejati berjumlah tujuh
pasang. Tulang-tulang rusuk ini pada bagian belakang berhubungan dengan
ruas-ruas tulang belakang sedangkan ujung depannya berhubungan dengan tulang
dada dengan perantaraan tulang rawan
Tulang rusuk palsu berjumlah 3
pasang. Tulang rusuk ini memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan tulang rusuk
sejati. Pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang
sedangkan ketiga ujung tulang bagian depan disatukan oleh tulang rawan yang
melekatkannya pada satu titik di tulang dada
Rusuk melayang berjumlah 2 pasang.
Tulang rusuk ini pada ujung belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang
belakang, sedangkan ujung depannya bebas.
Tulang rusuk memiliki beberapa fungsi
diantaranya
1). melindungi jantung dan paru-paru dari
goncangan.
2). melindungi lambung, limpa dan
ginjal.
3). membantu pernapasan.
Indikator
66.
Disajikan data terkait
faktor yang mempengaruhi konduktivitas beberapa benda, peserta dapat menentukan
perbedaan konduktivitasnya
67.
Disajikan nama beberapa
benda, peserta dapat mengelompokkan dengan memberikan alasan/dasar
pengelompokannya
Materi
Struktur benda dan sifatnya
Sub Materi
Klasifikasi materi berdasarkan struktur / kemampuan
menghantarkan panas
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Konduktivitas Listrik
Faktor-faktor tertentu dapat
mempengaruhi seberapa baik bahan menghantarkan listrik.
Temperatur: Mengubah suhu perak atau
konduktor lain dapat mengubah konduktivitasnya. Secara umum, peningkatan suhu
menyebabkan eksitasi termal atom dan menurunkan konduktivitas karena
meningkatkan resistivitas. Hubungannya linear, tetapi munkin berbeda pada suhu
rendah.
Pengotor: Menambahkan ketidakmurnian
ke konduktor menurunkan konduktivitasnya. Sebagai contoh, perak sterling tidak
sebagus konduktor seperti perak murni. Perak yang teroksidasi tidak sebaik
konduktor seperti perak yang tidak ternoda. Kotoran menghambat aliran elektron.
Struktur
dan fase kristal:
Jika ada fase material yang berbeda, konduktivitas akan sedikit melambat pada
antarmuka dan mungkin berbeda dari satu struktur dibanding struktur lainnya.
Cara bahan telah diproses dapat mempengaruhi seberapa baik ia menghantarkan
listrik.
Medan
elektromagnetik:
Konduktor menghasilkan medan elektromagnetik mereka sendiri ketika listrik
melaluinya, dengan medan magnet yang tegak lurus dengan medan listrik. Medan
elektromagnetik eksternal dapat menghasilkan magnetoresistance, yang dapat
memperlambat aliran arus.
Frekuensi: Jumlah siklus osilasi arus
listrik bolak-balik per detik adalah frekuensinya dalam hertz. Di atas tingkat
tertentu, frekuensi tinggi dapat menyebabkan arus mengalir di sekitar konduktor
dan bukan melewatinya (efek kulit). Karena tidak ada osilasi dan karenanya
tidak ada frekuensi, efek kulit tidak terjadi pada arus searah.
Klasifikasi materi berdasarkan struktur / kemampuan
menghantarkan panas
1. Konduktor panas adalah
suatu benda yang mampu menghantarkan energy panas.
Contoh benda konduktor
seperti besi, aluminium, seng, tembaga batu, baja, dan lainya.
2. Isolator panas adalah suatu
benda yang tidak mampu menghantarkan energy panas.
Contoh benda isolator panas
seperti kayu, kertas, plastik, karet, kain, dan lainya.
Indikator
68.
Disajikan cerita tentang
dua orang yang menimba air dengan cara yang berbeda, yang satu menimba langsung
dengan menggunakan tali satunya lagi menggunakan katrol, peserta dapat
membandingkan besar keuntungan mekaniknya.
Materi
Gaya dan Energi
Sub Materi
Pesawat Sederhana
Keuntungan
Mekanis Katrol Tetap
Katrol tetap diambil dari
jenis katrol sesuai dengan sifatnya, yaitu letaknya berada pada posisi yang
sama. Kedudukan atau posisi dari katrol tetap dibuat selalu sama dan tidak
berpindah. Titik tumpu katrol tetap berada di tengah katrol.
Jarak titik tumpu sistem
katrol tetap dan titik beban disebut lengan beban, yang biasa ditulis
Gambar keterangan katrol
tetap dan persamaan keuntungan mekanis katrol tetap diberikan seperti berikut.
Keterangan:
· A = titik beban
· B = titik kuasa
· O = titik tumpu
· OA = lengan beban (lb)
· OB = lengan kuasa (lk)
· Fb = gaya beban (W)
· Fk = gaya kuasa (F)
Diketahui bahwa
keuntungan mekanis katrol tetap sama dengan satu. Artinya, gaya yang diperlukan
untuk mengangakat beban w sama dengan gaya bebannya. Kondisi ini diperoleh dari
persamaan keuntungan mekanis katrol, seperti berikut ini.
Terbukti bahwa gaya beban sama dengan gaya
kuasa.
Keuntungan Mekanis Katrol Bebas/Bergerak
Dinamakan katrol bebas atau katrol bergerak
karena posisi katrol berubah-ubah sesuai gerak benda. Jika benda bergerak naik
maka katrol bebas juga akan bergerak naik. Demikian pula untuk saat benda
bergerak turun, katrol bergerak akan mengikuti gerak benda turun.
Gambar keterangan dan persamaan keuntungan
mekanis katrol bebas/katrol bergerak diberikan seperti berikut.
Keterangan:
·
A = titik beban
·
B = titik kuasa
·
O = titik tumpu
·
OA = lengan beban (lb)
·
OB = lengan kuasa (lk)
·
Fb = gaya
beban (W)
·
Fk = gaya
kuasa (F)
Perhatikan bahwa lengan kuasa sama dengan dua kali lengan beban. Karena
OA = OB, merupakan jari-jari katrol. Dengan demikian berlaku persamana berikut.
lk = 2lb
Sehingga, keuntungan mekanis katrol bebas sama dengan 2 (dua). Artinya,
gaya yang diperlukan untuk mengangakat beban w sama dengan setengah bebannya.
Kondisi ini diperoleh dari persamaan keuntungan mekanis katrol, seperti berikut
ini.
Terbukti bahwa gaya kuasa sama dengan setengah gaya
beban.
Keuntungan Mekanis Sistem Katrol
Sistem katrol merupakan kombinasi dari dua jenis
katrol, baik dari kombinasi katrol tetap, kombinasi katrol bebas, atau
kombinasi dari kedua jenis katrol ini. Dalam sebuah sistem katrol, banyaknya
katrol yang digunakan tidak ada ketentuan. Meskipun begitu, biasanya digunakan
katrol sebanyak lebih dari dua.
Keuntungan mekanis sistem katrol dinyatakan oleh
banyaknya tali yang menopang beban.
Semakin banyak tali yang menopang benda. Keuntungan
mekanis sistem katrol akan semakin besar. Artinya semakin sedikit usaha yang
dibutuhkan untuk mengangkat beban. Sistem katrol biasanya digunakan untuk
mengangkat beban yang sangat berat. Biasanya terdapat di tempat kerja yang
melibatkan alat berat.
Perhatikan contoh cara menentukan keuntungan mekanis sistem katrol pada
gambar di bawah.
Berdasarkan gambar di
atas, jumlah tali yang menopang benda ada sebanyak empat tali yang terhubung
melalui katrol. Dengan demikian, sistem katrol di atas memiliki keuntungan
mekanis sebesar 4 (empat). Besar gaya yang diperlukan untuk mengangkat beban
adalah seperempat dari berat benda w.
Keuntungan Mekanis Katrol (Roda) Bergandar
Katrol bergandar atau
sering disebut roda bergandar merupakan kombinasi katrol yang disatukan dalam
satu sumbu poros. Biasanya terdiri atas katrol dengan beda ukuran, katrol besar
dan katrol kecil. Katrol besar berhubungan dengan gaya yang bekerja. Pada
katrol kecil menopang beban.
Keuntungan mekanis katrol
bergandar dinyatakan sebagai perbandingan jari-jari katrol besar (R) dan
jari-jari katrol kecil (r).
Indikator
69.
Disajikan gambar tentang
proses perubahan energi pada pembangkit listrik (angin atau air atau matahari
atau uap), peserta dapat menganalisis perubahan energi apa yang terjadi pada
setiap tahapannya.
70.
Disajikan grafik hubungan
antara waktu pemanasan dan perubahan suhu suatu zat cair yang massanya berbeda,
peserta dapat menentukan mana yang memerlukan kalor lebih besar
Materi
Gaya dan Energi
Sub Materi
Perubahan energi
PERUBAHAN ENERGI PADA PEMBANGKIT LISTRIK
Kita
ketahui bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahakan namun
dapat berubah bentuk. Jadi, energi hanya berubah bentuk dari bentuk satu ke
bentuk energi lainnya. Perubahan energi tersebut sangat berguna bagi manusia.
Salah
satu kegunaan perubahan energi adalah untuk memperoleh energi listrik yang kita
gunakan sehari – hari dari energi lainnya. Energi listrik tidak langsung hadir
namun kita perlu menghasilkan energi listrik dari energi lainnya, misalnya saja
energi gerak pada angin yang dirubah menjadi energi listrik. Berikut adalah
perubahan – perubahan energi yang terjadi pada pembangkit listrik :
Pembangkit
listrik tenaga air (PLTA)
Pembangkik
listrik tenaga air biasanya menggunakan aliran air sungai untuk menggerakkan
turbin sehingga turbin akan menghasilkan listrik. Dengan demikian kita dapat
menikmati listrik di rumah. Jadi perubahan energinya adalah dari energi gerak
(kinetik) langsung ke energi listrik.
energi
kinetik → energi listrik
Pembangkit
listrik tenaga angin
Sama
dengan pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik ini juga langsung
mengubah energi kinetik menjadi energi listrik.
energi
kinetik → energi listrik
Pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU)
Pada
pembangkit listrik tenaga uap, ia memperoleh energi dari uap yang dihasilkan.
Namun prosesnya tidak secepat itu, uap yang di hasilkan harus dari bahan bakar
yaitu misalnya saja bahan bakar batu bara yang biasa digunakan pada pembangkit
listrik tenaga uap di Indonesia. Jadi dari energi kimia, lalu ke energi panas,
setelah itu ke energi kinetik ( dari uap tadi ), lalu menghasilkan energi
listrik.
energi
kimia → energi panas → energi kinetik → energi listrik
Pembangkit
listrik tenaga panas bumi
pada
dasarnya pembangkit ini sama saja dengan pembangkit tenaga uap, namun uap yang
digunakan langsung berasal dari perut bumi sehingga tidak memerlukan energi
kimia. Jadi dari energi panas ke energi kinetik lalu ke energi listrik.
energi
panas → energi kinetik → energi listrik
Pembangkit
listrik tenaga diesel (PLTD)
Pada
pembangkit ini ia menggunakan bahan bakar seperti solar untuk menggerakkan
piston agar memperoleh listik. Biasanya pembangkit listrik jenis ini hanya
untuk daerah terpencil. Jadi prosesnya adalah energi kimia diubah menjadi
energi gerak lalu diubah lagi ke energi listrik.
energi
kimia → energi kinetik → energi listrik
Pembangkit listrik tenaga ombak
Pembangkit
listrik yang satu ini cukup menjanjikan karena dengan menggunakan ombak akan
memperoleh listik. Pembangkit listrik ini mendapatkan energi dari gerakan ombak
yang naik turun untuk memperoleh tekanan udara sehingga dapat memutar
generator. Prosesnya adalah energi kinetik diubah menjadi energi listrik.
energi kinetik → energi listrik
Pembangkit
listrik tenaga nuklir (PLTN)
Cara
kerja pembangkit listrik ini sama dengan pembangkit listrik tenaga uap namun
memperoleh panas bukan dari bahan bakar fosil melainkan dari nuklir. Prosesnya
adalah energi nuklir diubah menjadi energi panas, kemudian energi panas diunah
menjadi energi kinetik. Terakhir energi kinetik akan diubah menjadi energi
listrik.
energi nuklir → energi panas → energi kinetik → energi listrik
Grafik hubungan antara waktu pemanasan dan perubahan
suhu suatu zat cair yang massanya berbeda, peserta dapat menentukan mana yang
memerlukan kalor lebih besar
Indikator
71.
Disajikan data tentang
keterkaitan hari raya Idul Fitri dua tahun berturut-turut (misalnya 1440 H
dengan 1441 H) dengan kalender masehi, peserta dapat mengidentifikasi perbedaan
kalender Masehi dengan kalender Hijriyah.
Materi
Mengenal Bumi
Sub Materi
Gerak bumi dan fungsinya
Mengidentifikasi perbedaan kalender Masehi dengan
kalender Hijriyah.
Untuk lebih menjelaskan
perbedaan terkait keduanya, kami akan mencoba untuk membahas perbedaan keduanya
menjadi beberapa bagian. baik, berikut pembahasannya.
Sistem penanggalan.
Pada sistem kalender
hijriyah, penanggalan di dasarkan dari pergerakan bulan yang mengelilingi hari.
Sedangkan pada sistem kalemder masehi, sistem penanggalan nya didasarkan pada
perputaran bumi mengelilingi matahari.
Jumlah hari dalam satu bulan dan satu tahun.
Kalender hijriah
memiliki jumlah hari dalam 1 tahun adalah 354-355 dan dalam 1 bulan memiliki
jumlah hari 29-30 hari. Sementara pada kalender masehi memiliki jumlah 365 hari
(kecuali tahun kabisat sejumlah 366 hari). Dan sejumlah 30 - 31 hari selama 1
bulan (kecuali februari 28 hari).
Awal penanggalan.
Kalender hijiriah
berawal dari peristiwa hijrahnya nab Muhammad SAW dari Mekkah ke madinah yang
terjadi pada tahun 622 Masehi. Sementara pada kalender masehi berawal pada
peristiwa lahirnya nabi Isa Almasih AS.
Penentuan hari baru.
Pada kalender masehi,
hari baru di mulai pada jam 00.00 atau jam 12 dini hari. Sementara pada
kalender hijriah, hari baru dimulai pada saat tenggelamnya matahari.
Nama bulan dan hari.
Nama
bulan dari kalender hijriah adalah Muharram, Shafar, Robiul awal, Robiul Akhir,
Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Zulqoidah, dan
Zulhijjah. Sedangkan psda kalender Masehi, tentu kita sudah tau sama-sama.
Yaitu : Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September,
Oktober, November, dan Desember. Selanjutnya adalah nama hari. Nama hari dari
kedua kalender tersebut adalah Ahad (Minggu), Itsnayn (Senin), Tsalaatsa
(Selasa), Arba'aa (Rabu), Khamsatun (Kamis), Jum'a (Jumat), dan Sabt (Sabtu).
Indikator
72.
Disajikan data tentang kasus
terjadinya bencana alam dipermukaan bumi, peserta dapat menganalisis proses
alam Endogen atau Eksogen keterkaitan dengan bencana alam tersebut.
73.
Disajikan kasus tentang kependudukan
di wilayah Indonesia, peserta dapat menganalisis persebaran penduduk Indonesia.
74.
Disajikan data tentang
permasalahan kependudukan di wilayah Indonesia, peserta dapat mengevaluasi
kualitas penduduk Indonesia.
Materi
Manusia, tempat dan Lingkungan
Sub Materi
Proses pembentukan muka bumi (Proses Alam Endogen dan
Proses alam Eksogen)/Kependudukan (Dinamika kependudukan, Persebaran Penduduk,
komposisi penduduk, pertumbuhan dan kualitas penduduk, keragaman)
Proses pembentukan muka bumi
A.
Bumi
Di setiap proses pembentukan permukaan bumi, tenaga endogen
adalah pembentuk muka bumi yang paling awal. Selanjutnya pembentukan bumi
dengan tenaga eksogen mengubah bentuk bumi yang telah dibuat oleh tenaga
endogen. Dalam paparan berikut :
1) Tenaga Endogen
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal
dari dalam perut bumi. Dalam proses pembentukan muka bumi, tenaga endogen
dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
(a)
Tektonisme adalah gerakan yang berasal dari panas yang ada di dalam
bumi yang kemudian mendorong vertikal dan hoisontal.
(b)
Vulkanisme adalah magma yang berada di dalam bumi mengalami
pergerakan.
(c)
Seisme adalah gempa bumi. Gempa
bumi adalah getaran yang terjadi akibat dari proses patahan dan lipatan.
2) Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar
bumi. Pada proses pembentukan muka bumi melalui tenaga
eksogen dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
(a)
Sedimentasi, dimana batu - batuan maupun sisa makhluk hidup
mengalami pengendapan.
(b) Erosi, adalah proses pengikisan di
permukaan bumi akibat dari pengaruh angin, air dan gletser. Erosi terdiri dari
:
(1) Ablasi adalah pengikisan yang dilakukan
oleh air
(2) Abrasi adalah proses pengikisan oleh air
laut
(3) Eksarasi adalah proses pengikisan oleh
gletser
(4) Deflasi adalah pengikisan yang dilakukan
oleh angin
3)
Dampak Tenaga Endogen dan Tenaga Eksogen
Dampak positif dan negatif dari
tenaga endogen dan eksogen sebagai berikut :
(a) Dampak positif tenaga endogen dan eksogen
(1) Akibat
dari pelapukan akan mengahsilkan bentuk muka bumi yang indah.
(2)
Akibat sedimentasi
tanah menjadi subur.
(3)
Akibat gunung meletus
menjadi daerah sekitar menjadi subur dan material gunung dapat dimanfaatkan
sebagai bahan bangunan.
(4)
Patahan yang terjadi di
dalam bumi akan menghasilkan permukaan bumi yang sangat unik.
(b) Dampak negatif tenaga endogen dan eksogen
(1)
Akibat letusan gunung
merapi menyebabkan kerusakan lahan akibat awan panas dan lahar.
(2)
Gempa yang dihasiilkan
merusak bangunan yang ada di permukaan bumi.
(3) Terjadi erosi secara terus menerus menyebabkan tanah kehilangan
daya suburnya.
B. Penduduk
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul
atau saling berinteraksi secara tetap dan memiliki kepentingan yang sama.
Sedangkan penduduk adalah semua orang yang menempati suatu wilayah hukum
tertentu dan waktu tertentu sehingga kita akan mengenal istilah penduduk tetap
dan penduduk tidak tetap. Penduduk yang mendiami wilayah
suatu negara sering
memunculkan berbagai macam dinamika
kependudukan. Dinamika penduduk
yang mendiami bumi ini
dipelajari dalam rangka mengkaji persebaran penduduknya.
1) Dinamika Penduduk
Cara yang digunakan dalam dinamika penduduk, yaitu:
a)
Kelahiran (Fertilitas)
b)
Kematian (Mortalitas)
c)
Migrasi
d)
Pertumbuhan Penduduk
e)
Kepadatan Penduduk
f)
Persebaran Penduduk Tidak Merata
2)
Kualitas Penduduk
Kualitas penduduk dapat dikatakan sebagai mutu penduduk
atau mutu sumber daya manusia yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: kualitas
fisik penduduk yang mencakup pemenuhan gizi, kesehatan, kematian dan harapan
hidup pada waktu lahir; dan kualitas nonfisik penduduk yang mencakup
pendidikan, latihan kerja dan sikap (keinginan atau dorongan).
Indikator
75.
Disajikan peristiwa
sejarah nasional, peserta dapat mengelompokkan peristiwa tersebut berdasarkan
metode sejarahnya.
Materi
Waktu, Keberlanjutan dan Perubahan
Sub Materi
Metode Sejarah (heuristic, kritik, interpretasi, dan
penulisan kisah sejarah) dan Konsep Keberlanjutan
Metode Sejarah
Metode sejarah terdiri dari teknik dan pedoman yang
digunakan sejarawan terhadap sumber primer dan bukti lainnya termasuk juga
bukti arkeologi. Dalam metode sejarah terdapat empat tahapan yang harus
dilewati. Keempat tahapan tersebut yakni heuristik, kritik atau verifikasi,
interpretasi dan historiografi.
1) Heuristik
Heuristik berasal dari kata bahasa Yunani
heuriskein yang berarti menemukan atau memperoleh. Heuristik diartikan sebagai
tahapan menemukan dan menghimpun sumber, informasi, jejak masa lampau. Jadi,
heuristik merupakan tahapan proses mengumpulkan sumber-sumber sejarah. Di
samping sumber tertulis, terdapat pula sumber lisan. Sejarah lisan merupakan
cerita-cerita tentang pengalaman kolektif yang disampaikan secara lisan.
Sejarah lisan diperlukan untuk melengkapi sumber-sumber tertulis. Dalam sejarah
lisan terdapat informasi-informasi yang tidak tercantum dalam sumber-sumber
tertulis. Untuk mendapatkan informasi itu, penulis harus melakukan wawancara
dengan nara sumber yang disebut sebagai pengkisah dengan menggunakan alat rekam
dan kaset.
2) Kritik
Tahapan yang kedua adalah kritik. Dalam
tahap ini, sumber-sumber yang yang telah diperoleh melalui tahapan heuristik
kemudian diverifikasi. Dalam tahap verifikasi terdapat dua macam kritik yakni
kritik ekstern untuk meneliti otentisitas atau keaslian sumber dan kritik
intern untuk meneliti kredibilitas sumber (Kuntowijoyo, 2005). Singkatnya,
tahapan kritik ini merupakan 11 tahapan untuk memilih sumber-sumber asli dari
sumber-sumber palsu. Untuk mendapatkan fakta sejarah perlu melakukan proses
koroborasi yaitu buktibukti (evidence) sejarah yang membenarkan atau memperkuat
suatu pernyataan (statement).
3) Interpretasi
Tahapan selanjutnya dari metode sejarah
adalah interpretasi. Interpretasi adalah tahapan atau kegiatan dalam
menafsirkan fakta-fakta dan menetapkan makna serta saling keterhubungan dari
fakta-fakta yang diperoleh. Terdapat dua macam interpretasi yakni analisis yang
berarti menguraikan dan sintesis yang berarti menyatukan. Melalui tahapan
interpretasi inilah, kemampuan intelektual seorang sejarawan diuji. Sejarawan
dituntut untuk dapat berimajinasi dengan membayangkan bagaimana peristiwa pada
masa lalu itu terjadi. Namun, bukan berarti imajinasi yang bebas seperti
seorang sastrawan. Imajinasi seorang sejarawan dibatasi oleh fakta-fakta yang
ada yang ia peroleh dalam tahap-tahap sebelumnya.
4) Historiografi
Tahapan yang keempat adalah historiografi.
Historiografi (Gottschalk, 2006) adalah rekonstruksi imajinatif dari masa
lampau berdasarkan data yang diperolah dengan menempuh proses pengujian dan
proses penganalisisan secara kritis melalui rekaman dan bukti peninggalan masa
lampau. Dalam melakukan penulisan sejarah, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu:
(1) penyeleksian
atas fakta-fakta, untaian fakta-fakta yang dipilih berdasarkan dua kriteria:
relevansi peristiwa-peristiwa dan kelayakannya;
(2) imajinasi
yang digunakan untuk merangkai fakta-fakta yang dimaksudkan untuk merumuskan
suatu hipotesis; dan
(3) kronologis.
Dalam tahap historiografi ini, seluruh imajinasi dari serangkaian fakta yang
ada dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Potongan-potongan fakta sejarah ditulis
hingga menjadi sebuah tulisan kisah sejarah yang kronologis.
Tahapan-tahapan
dalam metode sejarah yang dijelaskan di atas merupakan tahapan untuk
mempermudah sejarawan melakukan penelitian, mulai dari proses pengumpulan
sumber-sumber, memilih sumber-sumber asli, menginterpretasikan sumber-sumber
hingga akhirnya penuangan ke dalam bentuk penulisan sejarah.
Indikator
76.
Diberikan sebuah kasus
tentang sistem sosial pada masyarakat, peserta dapat mengidentifikasi nilai dan
norma pada masyarakat.
Materi
Sistem Sosial dan Budaya
Sub Materi
Interaksi sosial/Nilai nilai dan Norma
NILAI DAN NORMA PADA MASYARAKAT
NILAI
Nilai adalah segala
sesuatu yang dianggap baik dan buruk di dalam masyarakat. Nilai dapat
dijadikan dasar pertimbangan setiap individu dalam menentukan sikap serta
mengambil keputusan. Menurut Clyde Kluckhohn, nilai sosial dipengaruhi oleh
kebudayaan masyarakat itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan
tata nilai di antara kelompok masyarakat.
Ciri-ciri Nilai Sosial
1. Terbentuk melalui
proses interaksi sosial di masyarakat. Contohnya, nilai adab makan dan
minum yang dipelajari seseorang dari kecil melalui interaksi dengan orang
tuanya di rumah.
2. Mempengaruhi
kepribadian seseorang sebagai anggota masyarakat. Contohnya,
nilai-nilai yang mengutamakan kepentingan bersama, seperti sikap
tolong-menolong kepada teman atau tetangga yang sedang kesusahan dapat membuat
seseorang menjadi lebih peduli secara sosial.
3. Memiliki dampak atau pengaruh yang berbeda-beda terhadap
tindakan. Contohnya, seseorang yang mengutamakan nilai kejujuran pasti
tidak akan berbuat curang atau bohong di setiap tindakannya.
4. Berbeda-beda di setiap kelompok masyarakat. Hal ini ada
kaitannya dengan budaya (kebiasaan) yang ada di kelompok masyarakat tersebut.
Contohnya, masyarakat Jepang sangat patuh terhadap peraturan/tata tertib lalu
lintas. Sementara di Indonesia, masih banyak pengendara yang menerobos lampu
merah.
Macam-macam Nilai Sosial
1. Nilai material, merupakan segala sesuatu yang berguna
bagi tubuh manusia. Contohnya, barang-barang kebutuhan pokok, pakaian,
obat-obatan, dsb.
2. Nilai vital, merupakan segala sesuatu yang berguna
bagi manusia untuk melaksanakan aktivitasnya. Contohnya, buku dan
perlengkapan alat tulis bagi pelajar, komputer bagi orang yang bekerja di
bidang IT, barang-barang perkakas untuk orang pekerja bangunan, dsb.
3. Nilai kerohanian, merupakan segala sesuatu yang berguna
bagi batin (rohani) manusia. Nilai ini terbagi menjadi beberapa macam,
yaitu:
- Nilai kebenaran yang bersumber dari akal manusia dan diikuti dengan
fakta-fakta yang telah terjadi.
- Nilai keindahan yang berhubungan dengan ekspresi (perasaan) seseorang
mengenai keindahan suatu hal, seperti karya seni.
- Nilai moral yang bersumber dari perilaku baik dan buruknya seseorang.
- Nilai religius yang bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Nah,
sekarang kamu sudah tahu kan apa itu nilai sosial, ciri-ciri,
serta macam-macamnya. Ternyata, nilai sosial ini memiliki hubungan terhadap
norma-norma yang berlaku di masyarakat. Yuk, kita cari tahu
hubungan antara nilai dan norma pada penjelasan berikut ini!
NORMA
Norma adalah seperangkat
aturan berupa perintah atau larangan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan
bersama. Bedanya dengan nilai, norma bersifat nyata, tegas, dan jelas.
Pelanggar norma akan diberi hukuman (sanksi) tertentu.
Norma yang ada di masyarakat
merupakan bentuk penerapan dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat
tersebut. Contohnya seperti kasus pada pembukaan artikel di atas, nih.
Di tempat-tempat tertentu, biasanya terdapat norma yang melarang untuk membuang
sampah sembarangan. Nah, norma ini dibuat oleh masyarakat yang
peduli terhadap nilai keindahan dan kebersihan. Masyarakat yang menginginkan
lingkungan yang bersih, indah, dan sehat, kemudian membuat aturan untuk menjaga
lingkungan. Oleh karena itu, jika ada orang yang buang sampah sembarangan akan
menerima sanksi berupa teguran.
Nah, dari contoh kasus tersebut dapat
kita simpulkan kalau nilai merupakan dasar dari terbentuknya norma.
Ciri-ciri Norma Sosial
1. Umumnya tidak
tertulis. Norma sosial biasanya hanya diingat, diserap, dan diterapkan
dalam interaksi antar anggota kelompok masyarakat.
2. Hasil kesepakatan
bersama. Norma sosial adalah peraturan yang berfungsi untuk mengatur
perilaku seluruh anggota masyarakat. Oleh karena itu, norma sosial harus
berdasarkan hasil kesepakatan bersama.
3. Bisa mengalami
perubahan. Norma sosial terbentuk dari proses interaksi sosial di
masyarakat. Oleh karena itu, norma sosial bisa mengalami perubahan sesuai
dengan keinginan atau kebutuhan anggota masyarakat itu sendiri.
4. Ditaati bersama.
Sebagai aturan yang berlaku di masyarakat, norma sosial harus didukung dan
ditaati bersama oleh setiap anggota masyarakat.
5. Memiliki
hukuman/sanksi. Hukuman/sanksi ini ada yang sifatnya ringan, sedang,
dan berat. Hukuman/sanksi akan diberikan kepada setiap orang yang melanggar
norma yang berlaku.
Macam-macam Norma Sosial
Macam-macam norma sosial
dikelompokkan menjadi dua, yaitu berdasarkan tingkatan sanksinya dan
berdasarkan sumbernya.
a. Berdasarkan Tingkatan
Hukuman/Sanksi
1. Cara (usage),
merupakan perbuatan atau perilaku yang dilakukan seseorang dalam sebuah
kelompok masyarakat, tetapi tidak dilakukan secara terus menerus. Contohnya,
cara berpakaian yang baik dan sopan. Seseorang yang berpakaian kurang pantas
pada kondisi tertentu akan mendapat sanksi berupa teguran.
2. Kebiasaan (folkways),
merupakan perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan memiliki tujuan
jelas yang dianggap baik (benar). Kebiasaan ini apabila dilakukan oleh
sekelompok masyarakat, maka dapat disebut sebagai tradisi dan menjadi ciri dari
kelompok masyarakat tersebut. Contohnya, kebiasaan
menghormati dan menaati perintah orang tua, kebiasaan menggunakan tangan kanan
saat makan dan minum, dsb. Orang yang melanggar, akan mendapat hukuman berupa
teguran.
3. Tata Kelakuan (mores), merupakan aturan-aturan
yang telah diterima oleh masyarakat. Biasanya, tata kelakuan berhubungan dengan
kepercayaan atau keyakinan agama. Sanksi orang yang melanggar norma ini akan
jauh lebih berat tingkatannya. Contohnya, larangan untuk mencuri,
larangan untuk membunuh, dsb.
4. Adat Istiadat (custom), merupakan kumpulan tata
kelakuan yang bersifat kekal dan menyatu sangat kuat dengan masyarakat yang
menganutnya. Adat istiadat merupakan norma yang memiliki sanksi cukup berat
bagi para pelanggarnya. Contohnya, seseorang yang melanggar
pelaksanaan upacara adat akan dijatuhi hukuman berupa pengucilan dari
kelompoknya.
b. Berdasarkan Sumber
1. Norma Agama, bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa,
sehingga sifatnya mutlak dan harus ditaati oleh setiap pemeluk agama.
Contohnya, melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan sesuai agama dan
kepercayaan masing-masing.
2. Norma Kesusilaan, bersumber dari hati nurani
manusia untuk menentukan mana perbuatan yang baik dan buruk. Norma ini
akan membentuk akhlak atau budi pekerti seseorang. Contohnya, bersikap jujur,
tidak suka mengambil barang orang lain, dsb.
3. Norma Kesopanan, bersumber dari pergaulan
seseorang di masyarakat. Norma ini didasari dari kebiasaan, kepatutan, dan
kepantasan yang berlaku di masyarakat. Contohnya, sikap hormat kepada orang
tua, sopan dan santun kepada semua orang, dsb.
4. Norma Hukum, bersumber dari seseorang yang
memiliki jabatan atau wewenang. Sifatnya memaksa serta bertujuan untuk
melindungi dan menjaga tata tertib masyarakat. Contohnya, tidak melakukan
tindakan kriminal, tertib berlalu lintas, wajib membayar pajak, dsb.
Oke, sekarang kamu sudah tahu nih pengertian dari nilai
dan norma, perbedaan, serta hubungan antara keduanya. Kesimpulannya adalah
nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik atau buruk di masyarakat, sedangkan
norma merupakan aturan yang berlaku di masyarakat. Norma dibentuk berdasarkan
nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan bertujuan untuk mewujudkan
nilai-nilai tersebut. Nilai dan norma inilah yang menjadi dasar terbentuknya
lembaga sosial di masyarakat.
Indikator
77.
Disajikan kasus tentang perilaku
ekonomi (konsumsi), peserta dapat memberikan contoh perilaku ekonomi (konsumsi)
di masyarakat.
78.
Disajikan kasus tentang
perilaku ekonomi (produksi), peserta dapat memberikan contoh perilaku ekonomi
(produksi) di masyarakat.
Materi
Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
Sub Materi
Perilaku Ekonomi (Produksi, Distribusi,
Konsumsi)/Kesejahteraan hidup masyarakat.
Indikator
79.
Diberikan informasi tentang
perkembangan IPTEK yang berkontribusi pada interaksi masyarakat baik secara
lokal, peserta dapat menganalisis fenomena perkembangan IPTEK yang terjadi di
masyarakat.
80.
Diberikan informasi tentang
perkembangan penggunaan IPTEK, peserta dapat mengidentifikasi dampak positif
penggunaan IPTEK di era global.
Materi
Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
Sub Materi
Perilaku Ekonomi (Produksi, Distribusi,
Konsumsi)/Kesejahteraan hidup masyarakat.
Indikator
81.
Diberikan kasus HAM peserta
dapat menelaah pelanggaran HAM berat dan ringan yang terjadi di Indonesia
82.
Diberikan sebuah informasi
peserta dapat menentukan upaya pemajuan HAM di Indonesia dalam bidang produk
hukum, lembaga negara dan lembaga swadaya masyarakat
Materi
Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
Sub Materi
Perilaku Ekonomi (Produksi, Distribusi,
Konsumsi)/Kesejahteraan hidup masyarakat.
Pelanggaran HAM berat dan ringan
Berdasarkan sifatnya pelanggaran dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu:
a.
Pelanggaran HAM berat, yaitu
pelanggaran HAM yang berbahaya dan mengancam nyawa manusia. Jenis-jenis
pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusian.
Penanganan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia di atur dalam Undang-Undang
RI Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
b.
Pelanggaran HAM ringan, yaitu
pelanggaran HAM yang tidak mengancam keselamatan jiwa manusia, akan tetapi
dapat berbahaya jika tidak segera ditanggulangi. Misalnya, kelalaian dalam
pemberian pelayanan kesehatan, pencemaran lingkungan yang disengaja dan sebagainya.
Pembentukan produk hukum yang mengatur tentang HAM
sebagai Penjabaran UUD 1945
Pembentukan produk hukum yang mengatur mengenai hak
asasi manusia (HAM) dimaksud untuk menjamin kepastian hukum dalam proses
penegakan HAM. Selain itu produk hukum tersebut memberikan arahan bagi
pelaksanaan proses penegakan HAM. Adapun produk hukum yang dibentuk untuk
mengatur masalah HAM adalah:
a.
Pada amandemen kedua
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditetapkan satu
bab tambahan dalam batang tubuh yaitu bab X A yang berisi mengenai hak asasi
manusia, melengkapi pasal-pasal yang lebih dahulu mengatur mengenai masalah HAM.
b.
Dalam sidang istimewa MPR 1998
ditetap sebuah Ketetapan MPR mengenai hak asasi manusia yaitu TAP MPR Nomor
XVII/MPR/1998.
c.
Ditetapkannya Piagam HAM
Indonesia pada tahun 1998.
d.
Diundangkannya Undang-Undang RI
Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang diikuti dengan
dikeluarkannya PERPU Nomor 1 tahun 1999 tentang pengadilan HAM yang kemudian
ditetapakan menjadi sebuah undang-undang, yaitu Undang-Undang RI Nomor 26 tahun
2000 tentang Pengadilan HAM.
e.
Meratifikasi instrumen HAM
internasional selama tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hal ini diwujudkan dengan
meratifikasi:
1)
Convention Against Torture and
Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment menjadi Undang-Undang
RI Nomor 5 tahun 1998 tentang Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau
Penghukuman yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia.
2)
International Covenant on
Economic, Social and Cultural Rights menjadi Undang-Undang RI Nomor 12 tahun
2005 tentang Kovenan Internasional Hakhak Ekonomi, Sosial.dan Budaya
3)
International Covenant on Civil
and Political Rights menjadi Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2005 tentang
Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik.
Terbentuknya lembaga - lembaga independen yang
menangani masalah HAM yang pembentukannya diatur UU
Lembaga bentukan pemerintah yang bersifat independen dan
tidak memihak yang pembentukan, susunan, dan kedudukannya diatur dengan
undang-undang yang khusus untuk menangani permasalahan HAM antara lain adalah :
A.
Pembentukan Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (Komnas HAM)
Komnas HAM dibentuk pada tanggal 7 Juni 1993
melalui Kepres Nomor 50 tahun 1993. keberadaan Komnas HAM selanjutnya diatur
dalam Undang-Undang RI Nomor 39 tahun1999 tentang Hak Asas Manusia pasal 75
sampai dengan pasal 99. Selain ketentuan-ketentuan tersebut, tentu saja masih
ada produk hukum tentang HAM yang berlaku di Indonesia saat ini.
Komnas HAM merupakan lembaga negara mandiri
setingkat lembaga negara lainnya yang berfungsi sebagai lembaga pengkajian,
penelitian, penyuluhan, pemantauan dan mediasi HAM. Komnas HAM beranggotakan 35
orang yang dipilih oleh DPR berdasarkan usulan Komnas HAM dan diresmikan oleh
Presiden. Masa jabatan anggota Komnas HAM selama lima tahun dan dapat diangkat
lagi hanya untuk satu kali masa jabatan. Komnas HAM mempunyai wewenang sebagai
berikut:
1)
melakukan perdamaian pada kedua
belah pihak yang bermasalah
2)
menyelesaikan masalah secara konsultasi
maupun negosiasi
3)
menyampaikan rekomendasi atas
suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada pemerintah dan DPR untuk
ditindak lanjuti.
4)
memberi saran kepada pihak yang
bermasalah untuk menyelesaikan sengketa di pengadilan. Setiap warga negara yang
merasa hak asasinya dilanggar boleh melakukan pengaduan kepada Komnas HAM.
Pengaduan tersebut harus disertai dengan alasan, baik secara tertulis maupun
lisan dan identitas pengadu yang benar.
B.
Pembentukan Pengadilan HAM
Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan
Undang-Undang RI Nomor 26 tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus
terhadap pelanggaran HAM berat yang diharapkan dapat melindungi hak asasi
manusia baik perseorangan maupun masyarakat dan menjadi dasar dalam penegakan,
kepastian hukum, keadilan dan perasaan aman, baik perseorangan maupun
masyarakat. Berdasarkan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 26 tahun 2000,
Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutuskan perkara
pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Di samping itu, berwenang memeriksa
dan memutus perkara pelanggaran HAM yang dilakukan oleh warga negara Indonesia
dan terjadi di luar batas teritorial wilayah Indonesia. Adapun yang termasuk
pelanggaran HAM berat yang diatur dalam Pasal 7 sampai 9 Undang-Undang RI Nomor
26 tahun 2000 meliputi:
a.
Kejahatan genosida, yaitu
setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau
memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, atau
kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok, mengakibatkan penderitaan
fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok, menciptakan kondisi
kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh
atau sebagiannya, dan memaksakan tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di
dalam kelompok atau memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu
kepada kelompok yang lain.
b.
Kejahatan kemanusiaan, yaitu
satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau
sistemik, yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung
kepada penduduk sipil. Kejahatan kemanusian berbentuk pembunuhan, pemusnahan,
penyiksaan, perbudakan, pengusiran, perampasan kemerdekaan yang melanggara
hukum internasional dan sebagainya. Selain itu berbagai lembaga indipenden yang
bentuk oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan khusus di bidang anak,
perempuan atau kasus khusus lainnya seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia,
disingkat KPAI, adalah lembaga independen Indonesia yang dibentuk berdasarkan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka
meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak. Keputusan Presiden
Nomor 95/M/2004 merupakan dasar hukum pembentukan lembaga ini; Demikian juga,
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi dan lain lain.
C.
Terbentuknya Lembaga Swadaya
Masyarakat
yang menangani HAM Selain peraturan
perundangan dan lembaga independen yang pembentukannya melibatkan pemerintah,
ada pula lembaga swadaya masyarakat yang lahir dan berdirinya bersifat bottom
up. Lembaga tersebut antara lain:
Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan
Korban Tindak Kekerasan),
YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia),
PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak
Asasi Indonesia), dan
Elsam (Lembaga Studi dan Advokasi
Masyarakat), BKBH (Biro Konsultasi Bantuan Hukum) Perguruan Tinggi, dan
lain-lain.
Indikator
83.
Diberikan sebuah informasi
peserta didik dapat mengevaluasi penyebab problema yang dihadapi masyarakat multikultur
(prasangka, stereotipe, etnosentrisme, rasisme, diskriminasi)
Materi
Makna penting persatuan dan kesatuan dalam masyarakat
multikultur
Sub Materi
Pentingnya persatuan dan kesatuan dalam masyarakat
multikultur
Problem
Penyakit Budaya: Prasangka, Stereotipe, Etnosentrisme, Rasisme, Diskriminasi,
dan Scape Goating (kambing Hitam)
Konflik
bukan untuk di musuhi, tetapi di kelola secara arif dan bijaksana.
Masing-masing individu yang terlibat dalam komplik perlu menjernihkan pikiran
dan hati dari prasangka, stereotipe, etnosentrisme, rasisme, diskriminasi, dan
scape goating (kambing hitam) terhadap pihak lain. Karena pemahaman terhadap
adanya penyakit budaya tersebut merupalan kunci utama dalam proses
resolusi dan manajemen konflik. Negara ini membutuhkan solusi yang memuaskan
dalam menghadapi ancaman konflik dan separatism di daerah-daerah yang lebih
sering di sebabkan oleh tumbuh berkembangnya berbagai penyakit budaya seperti
berikut ini:
1. Prasangka
Johnson
(1986) mengatakan prasangka adalah sikap positif atau negatif berdasarkan
keyakinan stereotipe kita tentang anggota dari kelompok tertentu. Prasangka
meliputi keyakinan untuk menggambarkan jenis pembedaan terhadap orang lain
sesuai dengan peringkat nilai yang kita berikan.
Menurut
johnson (1981) prasangka adalah sikap intipati berlandaskan pada cara
menggeneralisasi yang salah dan tidak fleksibel. Prasangka merupakan sikap
negatif yang diarahkan kepada seseorang atas dasar perbandingan dengan
kelompoknya sendiri.
Jadi
prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan bagi kegiatan komunikasi
karena orang yang berprasangka sudah bersikap curiga dan menentang
komunikator yang melancarkan komunikasi. Sekarang pengertian prasangka
lebih diarahkan pada pandangan emosional dan negatif terhadap sesorang atau
sekolompok orang dibandingkan dengan kelompok sendiri.
Dari
beberapa pengertian yang dikemukakan di atas maka dapat kita simpulkan bahwa
prasangka merupakan sikap, pengertian, keyakinan dan bukan tindakan. Jadi
prasangka tetap ada dipikiran, sedangka diskriminasi mengarah ke tindakan
sistematis. Kalau prasangka berubah menjadi tindakan nyata maka pasangka
berubah menjadi diskriminasi yaitu tindakan menyingkirkan status dan peranan
seseorang dari hubungan, pergaulan, dan komunikasi antar manusia. Secara umum
kita dapat melihat prasangka mengandung tipe afektif (berkaitan dengan perasaan
negatif), kognitif (selalu berpkir sesuatu stereotipe), dan konasi
(kecenderungan berperilaku diskriminatif).
Prasangka
didasarkan atas sebab-sebab seperti :
§ Generalisasi
yang keliru pada perasaan
§ Stereotipe
antar etnik
§ Kesadaran
“in group” dan “out group” yaitu kesadaran akan ras “mereka”
sebagai kelompok lain yang berbeda latar belakang
kebudayaan dengan “ kami”.
2. Sterotipe
Stereotipe
merupakan salah satu bentuk prasangka antar etnik/ras. Orang cenderung
membuat kategori atas tampilan karakteristik perilaku orang lain berdasarkan
kategori ras, jenis kelamin, kebangsaan, dan tampilan komunikasi verbal maupun
non verbal selain itu juga, merupakan salah satu bentuk utama prasangka
yang menunjukan perbedaan “kami” yang selalu dikaitkan dengan superioritas
kelompok “kami” dan cenderung mengevaluasi orang lain yng dipandang inferior
“mereka”.
Stereotipe
adalah pemberian sifat tertentu terhadap sesorang berdasarkan kategori yang
bersifat subjektif hanya karena dia berasal dari kelompok lain. Pemberian sifat
tersebut bisa positif maupun negatif.
Vedeber
(1986) menyatakan bahwa stereotipe adalah sikap juga karakter yang dimiliki
sesorang dalam menilai karakteristik, sifat negatif, maupun positif orang lain,
hanya berdasarkan keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu.
Allan
G. Johson (1986) stereotipe adalah keyakinan sesorang dalam menggeneralisasikan
sifat-sifat tertentu yang cenderung negatif tentang orang lain karena
dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman tertentu. Keyakinan ini menimbukan
penilaian yang cenderung negatif bahkan merendahkan orang lain. Ada
kecenderungan memberikan “label” atau cap tertentu pada kelompok tertentu dan
yang termasuk problem yang perlu diatasi adalah stereotipe yang negatif atau
merendahkan kelompok lain.
Di
dalam menghadapi fenomena budaya yang ada di tanah air ini, kita perlu memberi
informasi yang benar tentang berbagi hal yang berkaitan dengan ras, suku,
agama, dan antar agama. Seringkali, keberadaan individu dalam suatu kelompok
telah dikategorisasi.
Miles
Hewstone dan Rupert Brown (1986) mengemukakan tiga aspek esensial dari
stereotipe yaitu;
a) Karakter
atau sifat tertentu yang berkaitan dengan perilaku, kebiasaan berperilaku,
gender dan etnis. Misalnya, wanita periang itu suka bersolek.
b) Bentuk
atau sifat perilaku turun menurun sehingga seolah-olah melekat pada semua
anggota kelompok. Misalnya, oran ambon itu keras.
c) Penggeneralisasian
karakteristik, ciri khas, kebiasaan, perilaku kelompik kepada individu yang
menjadi anggota kelompok tersebut.
Tajfel (1981)
membedakan bentuk atau jenis stereotipe yaitu :
1) Stereotipe
individu adalah generalisasi yang dilakukan oleh individu dengan
menggeneralisasi karakteristik orang lain dengan ukuran luas dan jarak tertentu
melalui proses kategori yang bersifat kognitif (berdasarkan penglaman
individu).
2) Stereotipe
sosial terjadi jika stereotipe itu menjadi evaluasi kelompok tertentu, telah
menyebar dan meluas pada kelompok sosial lain.
Stereotipe
itu bersifat unik dan berdasarkan pengalaman individu, namun kadang merupakan
hasil pengalam dan pergaulan dengan orang lain maupun dengan anggota kelompok
itu sendiri. Adakah hubungan antara stereotipe dengan komunikasi
Hewstone
dan Giles (1986) mengajukan empat kesimpulan tentang proses stereotipe :
a) Proses
stereotipe merupakan hasil dari kecenderungan mengantisipasi atau mengharapkan
kualitas derajat hubungan tertentu antara anggota kelompok tentu berdasarkan
sifat psikologis yang dimliki.
b) Sumber
dan sasaran informasi mempengaruhi proses informasi yang diterima atau yang
hendak dikirimkan. Stereotipe berpengaruh terhadap porses informasi individu.
c) Stereotipe
menciptakan harapan pada anggota kelompok tertentu (in group) dan kelompok lain
(out group).
d) Stereotipe
menghambat pola perilaku komunikasi kita dengan orang lain.
3. Entosentrisme
Etnosentrisme
adalah kecenderungan untuk menetapkan semua norma dan nilai budaya orang lain
dengan standar budayanya sendiri. Etnosentrisme merupakan paham-paham yang
pertama kali diperkenalkan oleh William Graham Sumner (1906), seorang
antropolog yang beraliran interaksionisme. Berpandangan bahwa manusia pada
dasarnya individualistis yang cenderung mementingkan diri sendiri, namun karena
harus berhubungan dengan manusia lain, maka terbentuklah sifat antagonistik.
Supaya pertentangan itu dapat dicegah maka perlu ada folkways (adat kebiasaan)
yang bersumber pada pola-pola tertentu. Mereka yang memiliki folkways yang sama
cenderung berkelompok dalam satu kelompok yang disebut etnis.
Sebab-sebab
Munculnya Etnosentrisme di Indonesia. Salah satu faktor yang mendasar yang
menjadi penyebab munculnya etnosentrisme di Bangsa ini adalah budaya politik
masyarakat yang cenderung tradisional dan tidak rasionalis. Budaya politik
masyarakat kita masih tergolong budaya politik subjektif Ikatan emosional –dan
juga ikatan-ikatan primordial- masih cenderung menguasai masyarakat kita.
Masyarakat kita terlibat dalam dunia politik dalam kerangka kepentingan mereka
yang masih mementingkan suku, etnis, agama dan lain-lain. Aspek kognitif dan
partisipatif masih jauh dari masyarakat kita.
Salah
satu faktor yang juga menjadi penyebab munculnya masalah etnosentrisme
adalah pluralitas Bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang
terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan golongan. Pluralitas masyarakat
Indonesia ini tentu melahirkan berbagai persoalan. Setiap suku, agama, ras dan
golongan berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan menguasai yang
lain.Pertarungan kepentingan inilah yang sering memunculkan persoalan-persoalan
di daerah.
Contoh
Etnosentrisme di Indonesia. Salah satu contoh etnosentrisme di Indonesia
adalah perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok
adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki
apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap
sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi apabila
konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang
beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dianggap
tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Namun, bagi masyarakat Madura, harga diri
merupakan konsep yang sakral dan harus selalu dijunjung tinggi dalam
masyarakat. Oleh karena itu, terjadi perbedaan penafsiran mengenai masalah carok
antara masyarakat Madura dan kelompok masyarakat lainnya karena tidak adanya
pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok tersebut dalam
masyarakat Madura. Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks
sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah
banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial.
4. Rasisme
Kata
ras berasal dari bahasa prancis dan itali “razza” pertama kali istilah ras
dikenalkan Franqois Bernier, antropolog perancis, untuk mengemukakan gagasan
tentang perbedaan manusia berdasarkan kategori atau karakteristik warna kulit
dan bentuk wajah. Setelah itu, orang lalu menetapkan hirarki manusia
berdasarkan karakteristik fisik atas orang eropa berkulit putih yang
diasumsikan sebagai warga masyarakat kelas atas berlawanan dengan orang afrika
yang berkulit hitam sebagai warga kelas dua.
Ras
sebagai konsep secara ilmiah digunakan bagi “penggolongan manusia” oleh Bufon,
anthorpolog perancis, untuk menerangkan penduduk berdasarkan pembedaan biologis
sebagai parameter. Pada abad 19, para ahli biologis membuat klasifikasi ras
atas tiga kelompok, yaitu kaukasoid, negroid dan mongoloid. Hasil penilitian
menunjukan bahawa tidak ada ras yang benar-benar murni lagi. Secara biologis,
konsep ras selalu dikaitkan dengan pemberian karakteristik seseorang atau
sekelompok orang ke dalam satu kelompok tertentu yang secara genetik memiliki
kesamaan fisik seperti warna kulit, mata, rambut, hidung, atau potongan wajah.
Pembedaan seperti itu hanya mewakili faktor tampilan luar.
Karena
tidak ada ras yang benar-benar murni, maka konsep tentang ras seringkali
merupakan kategori yang bersifat non- biologis. Ras hanya merupakan konstruksi
ideologi yang menggambarkan gagasan rasis.
Secara
kultur Carus menghubungkan ciri ras dengan kondisi kultur. Ada empat
jenis ras yaitu : afrika, mongol, dan amerika yang berturut-turut mencerminkan
siang hari (terang), malam hari (gelap), cerah pagi (kuning), dan sore (senja)
yang merah.
Namun
konsep ras yang kita kenal lebih mengarah pada konsep kultur dan merupakan
kategori sosial, bukan biologis. Montagu, membedakan antara “ide sosial dari
ras” dan “ide biologis dari ras”. Definisi sosial berkaitan dengan fisik dan
perilaku sosial.
5. Diskriminasi
Diskriminasi
adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan
keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau,1999). Misalnya
banyak perusahaan yang menolak mempekerjakan karyawan dari etnik tertentu.
Diskriminasi bisa terjadi tanpa adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang
berprasangka juga belum tentu akan mendiskriminasikan (Duffy & Wong, 1996).
Akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat prasangka melahirkan
diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai
rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok
tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut.
Prasangka
menunjukkan pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Dengan
demikian diskriminatif merupakan tindakan yang relaistis, sedangkan prsangka
tidak realistis dan hanya diketahui oleh diri individu masing-masing.
Diskriminasi menunjukkan pada suatu tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap
prasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu, tak dapat dipisahkan.Seseorang
yang mempunyai prasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras
yang diprasangkainya.
Demikian
juga sebaliknya seseorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak
diskriminatif. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam
masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk
membeda-bedakan yang lain.
Sedangkan
diskriminasi menurut Theodorson & Theodorson, diskriminasi adalah ketidak
seimbangan atau ketidak adilan yang ditujukan oleh orang atau kelompok lain
yang biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti
berdasarkan ras, kesuku bangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial.
Diskriminasi bersifat aktif dari prasangka yang bersifat negatif (negative
prejudice) terhadap seorang individu atau suatu kelompok.
Jika
prasangka mencakup sikap dan keyakinan, maka diskriminasi mengarah pada
tindakan. Tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki
prasangka kuat akibat tekanan tertentu, misalnya tekanan budaya, adat istiadat,
kebiasaan atau hukum. Antara prasangka dan diskriminasi ada hubungan yang
saling menguatkan, selama ada prasangka, disana ada diskriminasi. Jika
prasangka dipandang sebagai keyakinan atau ideologi, maka diskriminasi adalah
terapan keyakinan atau ideologi. Jadi diskriminasi merupakan tindakan yang
membeda-bedakan dan kurang bersahabat dari kelompok dominan terhadap kelompok
subordinasi.
6. Scapegoating
Teori
kambing hitam mengemukakan kalau individu tidak bisa menerima perlakuan
tertentu yang tidak adil, maka perlakuan itu dapat ditanggungkan kepada orang
lain. Ketika terjadi depresi ekonomi di jerman, Hitler mengkambing hitamkan
orang yahudi sebagai penyebab rusaknya sistim politik dan ekonomi di negara
itu. Ada satu pabrik di auscwitz, polandia yang digunakan untuk membantai
hampir 1,5 juta orang yahudi. Tua muda, besar kecil laki-laki dan perempuan
dikumpulkan. Kepala digunduli dan rambut yang dikumpulkan mencapai hampir 1,5
ton. Rambut yang terkumpul itu akan dikirimkan ke jerman untuk dibuat kain.
Richard Chamberlain berteori bahwa bangsa aria adalah bangsa yang besar dan
mulia yang mempunyai misi suci untuk membudayakan umat manusia. Bangsa aria (jerman)
ini merasa bahwa kekacauan ekonomi dan politik di jerman disebabkan oleh bagsa
yahudi.
Indikator
84.
Diberikan sebuah contoh kasus
peserta didik dapat mengevaluasi penerapan berbagai macam norma di masyarakat
Materi
Konsep Nilai, norma, moral, dan hukum
Sub Materi
Konsep Nilai, norma, moral, dan hukum
MORAL
Moral merupakan
pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga
berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan
(akhlak). Moralisasi, berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan
dan kelakuan yang baik. Demoralisasi, berarti kerusakan moral.
Dalam bahasa
sehari-hari, yang dimaksud dengan kesusilaan bukan mores, tetapi
petunjuk-petunjuk untuk kehidupan sopan santun dan tidak cabul. Jadi, moral
adalah aturan kesusilaan, yang meliputi semua norma kelakuan, perbuatan tingkah
laku yang baik. Kata susila berasal dari bahasa
Sansekerta, su artinya “lebih baik”, sila berarti
“dasar-dasar”, prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan hidup.
Jadi susila berarti peraturan-peraturan hidup yang lebih baik.
Pengertian moral
dibedakan dengan pengertian kelaziman, meskipun dalam praktek kehidupan
sehari-hari kedua pengertian itu tidak jelas
batas-batasnya. Kelaziman adalah kebiasaan yang baik tanpa pikiran
panjang dianggap baik, layak, sopan santun, tata krama, dsb. Jadi, kelaziman
itu merupakan norma-norma yang diikuti tanpa berpikir panjang dianggap baik,
yang berdasarkan kebiasaan atau tradisi.
Moral juga dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.
Moral murni, yaitu moral yang
terdapat pada setiap manusia, sebagai suatu pengejawantahan dari pancaran
Ilahi. Moral murni disebut juga hati nurani.
2.
Moral terapan, adalah moral
yang didapat dari ajaran pelbagai ajaran filosofis, agama, adat, yang menguasai
pemutaran manusia.
Komentar
Posting Komentar